Berita Magetan

Ribuan Perajin Kulit juga Terancam Rencana Penutupan Pabrik Penyamaan Kulit di Magetan

Perajin sandal berbahan kulit di Dusun Jejeruk, Desa Candi, Kecamatan/Kabupaten Magetan juga terancam mati jika rencana pabrik berhenti produksi.

surya.co.id/doni prasetyo
Perajin sandal berbahan kulit di Dusun Jejeruk, Desa Candi, Kecamatan/Kabupaten Magetan juga terancam mati jika rencana pabrik penyamaan kulit berhenti produksi. 

SURYA.co.id | MAGETAN -  Rencana penutupan pabrik penyamaan kulit di Kabupaten Magetan tidak hanya mengancam karyawan pabrik tersebut, tetap juga terhadap ribuan perajin.

"Dengan berhentinya produksi kulit, pastinya bahan untuk kerajinan sangat sulit. Kalau pun harus mendatangkan kulit dari luar Magetan, harganya pasti sangat mahal," kata Edi Purnomo, Ketua Paguyuban Perajin Sandal Kulit Jejeruk, Desa Candi, Kecamatan/Kabupaten Magetan, Senin (2/3/2020).

Dikatakan Edi, jika kulit sebagai bahan kerajinannya sulit didapat di Magetan, perajin akan belajar membuka usaha lain. Tapi beralih usaha itu baru dipilih, bila benar benar produksi kulit di Magetan berhenti berproduksi.

"Kita masih menunggu bagaimana keputusan para pengusaha kulit. Kalau benar bakal berhenti berproduksi, kami akan beralih usaha yang mungkin jauh dari masalah kulit. Tapi beralih usaha itu merupakan pilihan terakhir,"jelas Edi.

Karena, lanjut Edi, usaha kerajinan kulit seperti sepatu, sandal, ikat pinggang, dompet, dan asesoris sepeda unto juga sepeda motor besar dijalani puluhan tahun, sehingga kalau beralih usaha sama dengan kembali ke nol.

"Kami merasa berat juga meninggalkan usaha kerajinan yang sudah puluhan tahun menghidupi keluarga dan bahkan menjadi ikon Kabupaten Magetan ini. Mudah mudahan, pertemuan penguasa dan pengusaha bisa ada solusi,"katanya.

Menurut Edi, perajin kulit yang bernaung di paguyubannya berjumlah 50 perajin. Setiap perajin mempekerjakan tujuh sampai sembilan pekerja yang memiliki keterampilan perkulitan.

"Jadi tidak saya karyawan produksi kulit yang bakal menganggur, tapi juga perajin, dan karyawan kerajinan kulit. Karena itu kita sangat berharap ada solusi yang terbaik dipertemuan bupati dan pengusaha kulit," kata Edi.

Sebanyak 120 pengusaha kulit di Magetan sepakat menghentikan produksi kulitnya mulai Senin (2/3).

Keputusan pengusaha kulit yang tergabung di DPD Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Magetan itu merupakan buntut ultimatum Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magetan yang akan memberi sanksi, bila masih membuang limbah cair dan slag (limbah padat) di sekitat Lingkungan Industri Kulit (LIK) Magetan.

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved