Breaking News:

Citizen Reporter

Mengapa Selalu Menggambar Paket Gunung-Sawah-Matahari, Ini Jawabannya

Selama beberapa generasi, gambar yang paling populer di Indonesia adalah gunung, sawah, dan matahari. Kok bisa spontan begitu menggambarnya?

citizen reporter/Annisa Ariyani
Peserta workshop komik literasi menggambar tanpa struktur untuk memunculkan kreativitas. 

Ketika ada instruksi menggambar dalam waktu 60 detik, yang muncul di benak orang adalah menggambar gunung, sungai, matahari, dan awan. Kira-kira apa penyebab orang menyukai gambar gunung secara turun temurun? Itu dijelaskan dalam workshop komik literasi di SMKN 1 Singosari.

Workshop komik literasi dan media pembelajaran yang diselenggarakan komunitas guru belajar Malang bekerja sama dengan Vohasi Young Scientist SMKN 1 Singosari, Sabtu (23/2/2020) di aula SMKN 1 Singosari.

Acara yang dihadiri kurang lebih 30 peserta itu terdiri atas guru dan siswa, baik dari SMKN 1 Singosari maupun sekolah luar. Trainer couple dari Tangerang, yakni Cahyo Al-Mansyur (founder Rumah Asah Asih Asuh dan Fun Drawing Nusantara) bersama istrinya, Nurhasanah (owner dan psikolog Rumah Psikologi Hasanah).

Pada sesi pertama, Nurhasanah menjelaskan fungsi belahan otak kiri dan kanan. Orang sering menggambar menggunakan otak kiri sehingga menggambar terkesan terstruktur, mengingat contoh dan meniru. Tidak heran jika gambar gunung menjadi gambar turun temurun karena sebagian orang menggambar dengan cara mengingat-ingat contoh guru di masa sekolah dasar dulu. Butuh otak kanan dalam menggambar sehingga menggambar menjadi hal yang paling menyenangkan, luwes, dan bebas

Pada sesi selanjutnya, Cahyo mempraktikkan cara menggambar dengan otak kanan menjadi hal yang menyenangkan. Ia meminta peserta menggambar objek dengan menggunakan angka dan huruf.

Hasilnya, rata-rata peserta sering menggunakan otak kirinya dalam menggambar, seperti disuruh menggambar melalui angka 2 dan hasilnya menjadi angsa. Angka 2 bisa saja menjadi bentuk lain.

Ia mencontohkan menggambar dengan menggunakan otak kanan dan berimajinasi kreatif. Peserta tidak perlu menggunakan struktur menggambar secara formal.

Ia mencontohkan menggambar jerapah menggunakan fun drawing melalui huruf J. Ia menarik ke atas menjadi leher dan kepala, kemudian bagian tengah menjadi tubuhnya. Itu sangat sederhana dan tanpa harus berpikir lama-lama dalam menggambar.

Setelah mempraktikkan menggambar dengan hal yang menyenangkan dan imajinatif, tahap berikutnya peserta diajak untuk membuat rancangan dasar pembuatan komik. Ada tiga tahap pembuatan komik.

Pertama, membuat storyboard, yakni menentukan tokoh disertai dengan karakternya, setting (tempat, suasana, dan waktu), dan konflik. Kedua, tahap penerapan. Peserta disuruh membuat tiga kolom untuk mengaplikasi storyboard yang telah dibuat menjadi komik kasar. Ketiga, melipat dua kertas dan membuat komik sesungguhnya dari rancangan yang telah disusun sebelumya.

Pengaruh menggambar dengan fun drawing menimbulkan reaksi yang bagus pada otak reptil manusia. Otak repril memunculkan sesuatu yang membuat seseorang merasa senang, sehingga akan meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan inovatif.

Annisa Ariyani
Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia
Universitas Negeri Malang
annisaariyani93@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved