Breaking News:

Citizen Reporter

Membuat Tempat Sampah dari Sampah, Cara Mahasiswa Universitas Airlangga Manfaatkan Sampah Plastik

Sampah plastik menjadi persoalan yang pelik. Mahasiswa Universitas Airlangga memanfaatkan sampah plastik untuk membuat tempat sampah.

Membuat Tempat Sampah dari Sampah, Cara Mahasiswa Universitas Airlangga Manfaatkan Sampah Plastik
citizen reporter/Muhammad Wildan Suyuti
Mahasiswa Universitas Airlangga memanfaatkan ecobrick untuk membuat tempat sampah.

Sampah plastik di Desa Wiyurejo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang bertumpuk. Mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Back to Village (KKN-BV) membuat ecobrick dari sampah plastik untuk membuat tempat sampah.

Mahasiswa KKN-BV Unair melihat di daerah pedesaan masih minim pengetahuan tata cara pengelolaan sampah. Kebanyakan sampah plastik dimusnahkan hanya dengan dibakar yang berbahaya bagi udara di lingkungan.

Sampah plastik dapat dimanfaatkan dengan cara daur ulang maupun penggunaan kembali. Mengatasi hal itu, sembilan mahasiswa Unair membuat target meminimalkan sampah plastik.

Hal itu dilakukan karena Desa Wiyurejo menghasilkan sampah plastik sangat banyak setiap hari. Penggunaan plastik sekali pakai dan tanpa tindakan daur ulang maupun penggunaan kembali sangat lumrah di desa itu.

Menurut Masrudin Firdiansyah (Ferdi) yang merupakan anggota kelompok, untuk mengatasi sampah plastik di Desa Wiyurejo, mereka awalnya melakukan sosialisasi terkait pemanfaatan sampah plastik. Lalu juga disosialisasikan bahaya sampah plastik dan cara meminimalkan sampah plastik.

“Desa Wiyurejo memiliki banyak sekali sampah plastik dan hampir tidak ada tempat sampah yang sesuai prosedur di sana. Sampah hanya dibuang dan ditumpuk sampai pada akhirnya dibakar. Tidak ada pemanfaatan maupun kepedulian terhadap sampah itu,” jelas Ferdi (24/1/2020).

Ferdi dan teman sekelompok menggunakan metode ecobrick. Ecobrick merupakan metode untuk meminimalkan sampah dengan media botol plastik yang diisi penuh dengan sampah anorganik atau sampah yang tidak dapat diuraikan dalam waktu singkat.

Ecobrick dipilih untuk mengurangi sampah berbahan dasar plastik, serta mendaur ulang dengan media botol plastik untuk dijadikan sesuatu yang berguna. Selain itu, karena sampah plastik di Desa Wiyurejo sangat banyak, sedangkan tempat sampahnya sangat sedikit, maka mereka menjadikan ecobrick sebagai tempat sampah.

“Selain mengatasi masalah sampah plastik, kami juga mengadakan lomba mini soccer untuk anak-anak di Wiyurejo. Tujuannya supaya dapat menjadi cara menunjukkan bakat anak-anak Wiyurejo dalam bermain bola. Hasilnya, kami melihat bakat-bakat luar biasa dari anak-anak Wiyurejo,” ujarnya.

Mereka berharap Desa Wiyurejo dapat menjadi desa yang bersih dan program ecobrick yang telah diajarkan dapat memberi manfaat berkelanjutan. Selain itu, keberadaan sampah plastik dapat diambil manfaatnya untuk kerajinan tangan yang layak jual maupun berguna untuk kehidupan.

“Pemusnahan sampah plastik bukan hanya dengan dibakar, tetapi juga dapat digunakan secara positif asalkan caraya benar. Namun, alangkah lebih baik jika kita bersama-sama mulai meninggalkan penggunaan plastik demi hidup yang lebih baik,” pungkasnya.

Muhammad Wildan Suyuti
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Airlangga

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved