Breaking News:

Citizen Reporter

Literasi Bisa Lho dari Mendol Tempe di SMA Islam Baiturrohmah Malang

Literasi tidak hanya berurusan dengan membaca dan menulis. Bisa juga lho dikolaborasikan dengan kuliner seperti di SMA Islam Baiturrohmah Malang.

Literasi Bisa Lho dari Mendol Tempe di SMA Islam Baiturrohmah Malang
citizen reporter/Yulinda Sari Cahyaningtiyas
Makanan khas Jawa Timur menjadi ide untuk menggerakkan literasi di SMA Islam Baiturrohmah Malang

Literasi bisa diterapkan dengan bermacam cara. Di SMA Islam Baiturrohmah Malang, literasi diterapkan dengan kuliner Nusantara. Tema yang diangkat adalah kuliner Jawa Timur. Salah satunya mengangkat kuliner nasi jagung, urap, dan mendol tempe.

Sekolah menerapkan kegiatan literasi dengan cara yang berbeda-beda. Yang dilakukan di SMA Islam Baiturrohmah Malang cukup unik. Setiap kelompok memilih menu khas Jawa Timur. Itu sebabnya, ada soto ayam, nasi jagung, urap, mendol tempe, nasi pecel, dan getuk tersaji.

Kegiatan literasi saat ini sangat penting untuk diterapkan pada siswa mulai dari jenjang SD, SMP, SMA/SMK, bahkan sampai jenjang perguruan tinggi juga sangat diperlukan. Kegiatan literasi merupakan upaya untuk menumbuhkan minat baca dan nilai budi pekerti pada siswa.

Literasi tidak hanya dilakukan dengan membaca dan menulis, namun juga merupakan kegiatan keterampilan berpikir yang menambah pengetahuan baru bagi siswa. Kegiatan literasi juga sudah diterapkan di banyak sekolah, karena sangat dibutuhkan.

SMA Islam Baiturrohma Malang menerapkan kegiatan literasi dengan cara mengenalkan kuliner Nusantara kepada siswa, Jumat (21/2/2020). Masing-masing kelas dibentuk menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok membuat makanan tradisional khas Jawa Timur. Setelah itu, makanan itu ditata di sepanjang jalan depan kelas untuk dipresentasikan kepada guru, staf, dan siswa lainnya.

Acara itu dilakukan satu bulan sekali agar siswa mengenal kuliner Jawa Timur dengan cara membaca dan mempraktikkan sekaligus mempresentasikan.

Juhainiyah, Kepala SMA Islam Baiturrohmah Malang mengatakan, penerapan literasi itu memang dibuat berbeda agar para siswa tidak hanya bisa memahami teks, tetapi juga bisa mempraktikkan yang sudah mereka baca. Itu juga untuk melatih siswa agar bisa berbicara atau menyampaikan pendapat di muka umum.

“Dorongan untuk mempresentasikan menu yang sudah disiapkan akan meningkatkan rasa percaya diri mereka,” kata Juhainiyah.

Kegiatan berliterasi dapat dilihat dari ketekunan para siswa membaca resep sampai mempraktikkannya. Jika tema kuliner pada Februari adalah makanan khas Jawa Timur, Maret sudah disiapkan kuliner khas Jawa Tengah.

Yang menjadi pusat perhatian, setelah para siswa menata makanan di meja, mereka maju untuk mempresentasikan segala sesuatu tentang menu yang dipilih itu. Para siswa juga menceritakan proses pembuatannya. Presentasi semacam itu melatih rasa percaya diri. Apresiasi dari para guru, staf, dan siswa lain membuat mereka bersemangat.

Yulinda Sari Cahyaningtiyas
Mahasiswa Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah
Universitas Negeri Malang
Cahyaningtiyas9d@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved