Pilwali Surabaya 2020

Pilwali Surabaya 2020, Gus Hans Usung Slogan #IkiSuroboyo

KH Zahrul Azhar Asumta Asad mengenalkan jargon baru, #IkiSuroboyo. Ini makna di baliknya.

Pilwali Surabaya 2020, Gus Hans Usung Slogan #IkiSuroboyo
surabaya.tribunnews.com/bobby constantine koloway
Gus Hans 

SURYA.co.id, SURABAYA - Bakal Calon Wali kota Surabaya, KH Zahrul Azhar Asumta Asad mengenalkan jargon baru, #IkiSuroboyo. Secara spesifik, pria yang akrab disapa Gus Hans ini pun menjelaskan kepada Surya.co.id.

Iki Suroboyo merupakan kalimat dalam bahasa Jawa yang artinya Ini Surabaya. Menurut Gus Hans, karena ini adalah Surabaya, maka seluruh masyarakat memiliki potensi dan kesempatan yang sama memimpin Surabaya.

"Maksud saya, karena ini Surabaya, maka sebenarnya semua bisa beratisipasi dan berperan. Tidak boleh ada yang saling mengklaim, ini mampu, ini nggak mampu dan sebagainya," kata Gus Hans kepada Surya.co.id, ketika dikonfirmasi di Surabaya, Jumat (28/2/2020).

Sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta, Surabaya telah memiliki infrastruktur yang cukup. Sehingga, para calon kepala daerah berikutnya sebenarnya memiliki potensi yang sama untuk mengembangkan ibu kota Jawa Timur hari ini.

"Infrastruktur sudah ada, APBD juga berlebihan. Artinya, semua memiliki kesempatan dan potensi yang sama memimpin Surabaya," jelas pria yang juga Wakil Ketua DPD Golkar Jawa Timur ini.

Ia lantas mencontohkan beberapa kepala daerah lainnya yang juga berasal dari luar daerah. Misalnya, mantan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo yang berasal dari Solo. Serta, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) yang datang dari Bangka Belitung.

"Jokowi bukan lahir di Jakarta, tapi bisa menjadi Gubernur di Jakarta. Ahok dari bangka belitung, tapi bisa berkarier di Jakarta. Termasuk Risma (Tri Rismaharini, walikota Surabaya) juga orang Kediri," ujar pria yang juga pengasuh Pesantren di Jombang ini.

Hal ini sekaligus menjawab keraguan beberapa pihak yang masih saja mempermasalahkan tempat lahir para calon kepala daerah. Menurutnya, dibanding berdebat soal lahir dimana, lebih baik beradu program.

"Kami masih melihat ada yang sepertinya ngopinya kurang jauh. Seakan-akan, yang bisa membangun Surabaya hanya yang lahir di Surabaya. Yang berhak mengurus atau memimpin Surabaya, yang besar di surabaya," sindirnya.

"Ingat dong, Surabaya ibu kota Provinsi. Hanya orang-orang yang tidak yakin dengan potensinya yang masih jualan 'tempat lahir'," katanya.

Dibandingkan berbicara 'Paling Bisa', Gus Hans lebih tertarik untuk mengajak kerja bersama. "Sehimgga bagaimana membuat Surabaya sebagai rumah bersama, harus dibuat bersama-sama. Jangan menglaim, orang per orang lagi," lanjutnya.

Selain itu, pihaknya juga memperkenalkan Parikan (pantun Jawa), Jagir Wonokromo, wong pinggir ojo dilalekno (Jagir Wonokromo, jangan dilupakan). Di dalam pantun ini, ia ingin menitipkan pesan pentingnya pemerataan pembamgunan.

"Surabaya bukan (jalan) Ahmad Yani dan (jalan) Basuki Rahmat saja. Namun, juga Sidotopo, Bulakbanteng, dan daerah lainnya. Artinya, kunci membangun berkelanjutan dan pemerataan," tegasnya. 

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved