Menantu Bunuh Ibu Mertua

5 FAKTA Terbaru Menantu Bunuh Ibu Mertua, Bikin Kapolres Sidoarjo Murka & Begini Penyesalan Pelaku

Berikut 5 Fakta Terbaru Menantu Bunuh Ibu Mertua, Bikin Kapolres Sidoarjo Murka & Begini Penyesalan Pelaku.

Youtube Surya Online
Ilustrasi: 5 FAKTA Terbaru Menantu Bunuh Ibu Mertua, Bikin Kapolres Sidoarjo Murka & Begini Penyesalan Pelaku 

Tak berhenti di situ, pelaku kemudian menyeret tubuh korban ke dapur. Di sana kepalanya dikepruk menggunakan tabung gas elpiji 3 kg, kemudian berulang kali menusukkan gunting ke dada dan kemaluan korban.

Polisi masih terus berusaha mendalami perkara ini. Jika ada kemungkinan pelaku ini psikopat atau punya kelainan psikologi, petugas pun bakal menghadirkan psikiater.

"Sejumlah langkah akan diambil untuk membongkar semua terkait perkara ini. Penyidikan terus dilakukan," kata Kapolresta Sidoarjo, Kombes Pol Sumardji.

Sejauh ini, alasan utama pelaku menghabisi nyawa mertuanya hanya karena sakit hati dan kalap lantaran pinjam uang Rp 3 juta tidak dikasih.

3. Sempat Ngepel Lantai dan Menyembunyikan Barang Bukti

Dalam penyidikan itupun terungkap sejumlah fakta terkait aksi kejam menantu terhadap mertuanya sendiri di Desa Ganting, Kecamatan Gedangan, Sidoarjo tersebut.

Termasuk upaya pria 25 tahun yang tinggal di Desa Kloposepuluh, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo tersebut untuk menyembunyikan perbuatan jahatnya.

Sebelum meninggalkan rumah korban, Totok sempat membersikan bercak darah korban yang tercecer di lantai menggunakan air dan kain pel.

Dia juga mengambil pecahan miniatur kapal yang terdapat noda darah korban dan memasukkannya ke dalam tas ransel warna coklat yang dibawanya. Itu dilakukan untuk menghilangkan barang bukti.

Saat kabur, pelaku juga mengunci pintu rumah dari luar. Lalu dia kabur menggunakan sepeda motor honda Beat warna merah putih W-6203-UE.

Ketika melintas di jembatan layang Masangan Wetan Sukodono, tersangka membuang kunci rumah mertuanya itu ke semak-semak. Lalu dia menuju rumah orang tuanya untuk menyimpan tas ransel tersebut.

4. Berusaha Menguras ATM Korban

Usai menghabisi nyawa Siti Fadilah, mertuanya sendiri dengan cara yang sangat sadis, Totok Dwi Prasetyo ternyata sempat kembali bekerja.

Ya, pria 25 tahun yang tinggal di Desa Kloposepuluh, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo itu sehari-hari memang bekerja sebagai tukang antar catering.

"Usaha catering keluarganya. Tersangka ini tukang mengantar cateringan tersebut," kata Kapolresta Sidoarjo, Kombes Pol Sumardji, Kamis (27/2/2020)

Dalam peristiwa itu, pelaku datang ke rumah korban di Desa Ganting, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, Rabu (26/2/2020) sekitar pukul 08.30 WIB. Di rumah itu, dia menghabisi nyawa mertuanya dengan sangat keji.

Usai menghabisi nyawa ibu mertuanya, dia mengambil sejumlah gelang dan cincin emas, ponsel dan kartu ATM milik korban. Kemudian dia meninggalkan rumah itu.

"Sekitar pukul 10.30 WIB tersangka berangkat mengantar catering ke Gersik, tepatnya di Desa Bambe," ujar kapolres.

Dia ke sana menggunakan sepeda motor Honda Beat warna merah putih bernopol W 6203 UE. Dan dalam perjalanan pulang ke Sidoarjo, tersangka sempat mampir di Indomaret, Desa Bambe.

Di sana dia berusaha mengambil uang dengan menggunakan kartu ATM milik korban. Tapi upayanya menguras isi ATM tersebut tidak membuahkan hasil. Karena dia tidak hafal PIN ATM Korban.

Totok lantas pulang ke Sidoarjo. Yakni ke rumah neneknya yang berada di Desa Ganting, tak jauh dari rumah mertuanya.

Di rumah itulah dia ditangkap polisi, sekitar pukul 15.30 WIB. Totok tak bisa mengelak setelah polisi menunjukkan sejumlah bukti mengarah ke dirinya.

5. Dijerat Pasal Pencurian dengan Kekerasan

Totok Dwi Prasetyo, pelaku pembunuhan terhadap Siti Fadilah, mertuanya sendiri, sepertinya bakal lama mendekam di dalam penjara.

Ini karena penyidik menjerat pria 25 tahun yang tinggal di Desa Kloposepuluh, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo tersebut dengan pasal berlapis.

Pasal utama yang dikenakan adalah 338 KUHP tentang pembunuhan. Selain itu bapak satu anak tersebut juga dijerat pasal 356 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan.

Ditanya tentang kemungkinan memakai pasal 351 KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia, disebut dia kurang pas.

"Pasal 338 dan 365 KUHP itu yang sementara ini menurut kami paling pas. Pelaku menghabisi korban dan mengambil barang-barang berharganya," kata Wakasat Reskrim Polresta Sidoarjo, AKP Rochmawati Laila.

Penulis: Putra Dewangga Candra Seta
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved