Citizen Reporter

Jangan Beri Ampun, Hentikan Bullying Sekarang

Belajar dari kasus perundungan di Malang, semua harus bergerak bersama untuk menghentikan itu.

Jangan Beri Ampun, Hentikan Bullying Sekarang
citizen reporter/Annisa Ariyani
Orang tua siswa mendapat materi tentang pencegahan bullying di MI Alam Bilingual, Sengguruh, Kepanjen, Kabupaten Malang. 

Kasus bullying yang terjadi di salah satu SMP di Kota Malang membuat prihatin masyarakat sekitar. Bagaimanakah cara mengatasi bullyingi? Itu dijelaskan dalam temu pendidik Malang ke-19, dengan tema Stop Bullying Start Loving yang diselenggarakan oleh komunitas guru belajar Malang, Minggu (16/2/2020) di aula MI Alam Bilingual, Sengguruh, Kepanjen, Kabupaten Malang.

Ada empat pembicara dalam acara yang dihadiri 60 peserta dari pendidik dan orang tua itu. Mereka adalah Wahyudi Siswanto, Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Sri Wahyuningsih, Direktur LSM Women and Children Crisis Center, Elok Candra warga Malang, dan Heri dari Peace Generation Malang.

Di awal sesi, Wahyudi membuka dengan berbagai ice breaking yang meramaikan suasana. Acara ini dibagi dalam empat sesi sesuai dengan urutan pembiacara. Dosen sekaligus pemilik MI Alam Bilingual itu menjelaskan, salah satu pencegahan bullying adalah melalui kasih sayang orang tua dan memberikan keteladanan yang baik bagi anak-anaknya.

Bukan hanya itu, memberikan kekuatan spiritual kepada anak menjadi modal awal agar kelak anak mampu melakukan hal yang baik di mana saja.

Pembicara kedua, Sri Wahyuningsih menambahkan, kata bullying berasal dari kata bull yang berarti banteng, dan bully yang berarti gertakan. Jika digabungkan, itu bermakna tindakan agresif berupa penindasan dan pengintimidasian yang dilakukan oleh orang seseorang atau kelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Itu dilakukan berulang-ulang serta membuat korban menderita.

Ada empat jenis bullying, yakni verbal (menghina, mengejek, dan lain-lain), fisik (dibanting, dipukul, dan lain-lain), relasional (menghindari, mengucilkan, dan lain-lain), dan elektronik (menyebar foto, mengancam, dan lain-lain). Selain menjelaskan jenis bullying kepada para peserta, ia juga menjelaskan alasan perundungan atau bullying.

Itu dapat terjadi di lingkungan sekitar, yakni pembully ingin dianggap berkuasa dan kelihatan keren karena meniru aksi film/game. Ia tidak memiliki perhatian orang sekitar, akhirnya dia mengalihkan perhatian pada orang lain dengan cara menghina orang lain, melempar, dan lain-lain. Pembully sebenarnya mantan korban bully yang akhirnya mencari korban bully berikutnya.

Mantan dosen Hukum Universitas Brawijaya itu juga menjelaskan, ada kajian hukum terhadap bullying anak yang tertuang dalam UU No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPS) yakni (1) anak yang berkonflik dengan hukum, yaitu anak menjadi terduga pelaku tindak pidana, (2) anak korban tindak pidana, dan (3) anak yang menjadi sasksi tindak pidana.

Maka bullying anak dapat dikategorikan sebagai tindak pidana yang dilakukan oleh anak, terhadap anak, ada saksi anak, karena bullying anak itu sudah mengancam keselamatan anak.

Direktur LSM WCC itu menjelaskan, perlunya urun rembug bagi upaya penyelesaian dengan cara pemulihan psikologis korban maupun pelaku. Jika dari pelaku diberi dukungan dan motivasi untuk bisa bersemangat sekolah lagi, sedangkan para pelaku diberi pendampingan psikologis untuk meminta maaf kepada korban, membimbing, dan menyadarkan perilaku itu bukanlah perilaku yang baik dan dapat berakibat tindak pidana jika terulang.

Di sesi ketiga, Elok Candra, bibi korban bullying di SMP di Kota Malang menjelaskan jika kondisi korban saat ini mulai membaik dan mau sekolah lagi. Keponakannya tidak mau pindah sekolah dan tetap sekolah di sana, sebab banyak teman baik yang mendukung dan memberi semangat kepadanya sehingga dia mau bersekolah lagi.

Heri Susilo dari komunitas Peace Generation menjelaskan, jika pelaku bullying sebenarnya diperlukan tindakan konsekuensi dan penguatan mental yang bagus agar pelaku mengetahui konsekuensi atau risiko yang didapat ketika dia mulai melakukan perundungan sehingga ia mampu membatalkan rencananya. Ia juga mengajak masyarakat untuk menjadi pelopor penghentian bully dan mengawali semua tindakan dengan saling menghargai.

Acara yang berlangsung 4 jam itu ditutup dengan menulis surat kecil yang berisi harapan kepada Dinas Pendidikan Malang dalam mengatasi masalah perundungan. Itu agar Malang menjadi salah satu kota yang bebas dari perundungan.

Annisa Ariyani
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang
annisaariyani93@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved