Breaking News:

e Tilang Surabaya

Urus E-Tilang Butuh Waktu Enam Jam, Polrestabes Surabaya Siapkan Aplikasi Baru

Apalagi setiap hari kuota nomor antrean hanya untuk 150 orang, sehingga warga harus datang lebih pagi agar kebagian nomor antrean.

surya.co.id/febrianto ramadani
Suasana pengurusan tilang elektronik di mall pelayanan publik, Siola, Kota Surabaya, Jumat pagi (21/2/2020) 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sejumlah warga yang mengurus surat e-tilang atau Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE) di Posko Gakkum, Mal Pelayanan Publik Siola, mengeluhkan lamanya mekanisme pelayanan tilang elektronik oleh pihak kepolisian.

Untuk mendapatkan surat tilang resmi, warga rela datang sejak pagi hari demi mendapatkan nomor antrean.

Apalagi setiap hari kuota nomor antrean hanya untuk 150 orang, sehingga warga harus datang lebih pagi agar kebagian nomor antrean.

"Pelayanannya harus ditingkatkan lagi. Soalnya, setelah dilakukan proses verifikasi di Siola dan mendapatkan surat tilang, para pelanggar ini diarahkan ke Satpas Colombo untuk mengurus denda tilang. Hal inilah yang membutuhkan waktu yang lama," terang Faris (34), warga Wonokusumo, Surabaya, saat ditemui di Mal Pelayanan Publik Siola, Jumat (21/2/2020) pagi.

Dia juga berharap, pihak terkait segera meningkatkan spesifikasi kamera CCTV e-tilang agar data pelanggaran yang ditampilkan menjadi jelas.

Faris mengaku, tertangkap kamera CCTV e-tilang saat mobil Toyota Foxxy yang dikemudikannya melanggar marka di Jalan Raya Adityawarman, Kamis (6/2/2020) pukul 08.00.

Hal serupa juga diungkapkan Agus Khoirul (32), sopir perusahaan rental mobil di kawasan Rungkut.

Ia mengaku, datang di Mal Pelayanan Publik Siola pada pukul 07.00 dan terpaksa kerja dua kali dalam menyelesaikan proses e-tilang.

"Saya pikir penyelesaian e-tilang ini cuma ada di Siola saja. Ternyata tidak, habis di sini langsung ke Colombo. Jadi banyak waktu yang terbuang," keluh pria yang tertangkap kamera CCTV e-tilang karena menerobos traffic light (TL) di Jl Dharmawangsa tersebut.

Sedangkan sopir taksi online Agus Setiawan (40), mengatakan data pelanggaran yang ditampilkan kurang valid dalam surat panggilan (e-tilang) yang ia terima sehari sesudah kejadian tersebut.

Mobil yang dikemudikannya tertangkap kamera CCTV karena melanggar rambu lalu lintas di Jalan Raya Mastrip, Surabaya, Selasa (11/2/2020) malam.

"Saya secara pribadi mengakui kesalahan tersebut. Namun layanan administrasi sangat lama sekali. Dan itupun juga harus diselesaikan dua tempat. Semoga kondisi yang demikian bisa diperbaiki oleh pemangku kebijakan," ungkap pemilik Daihatsu Zigra tersebut.

Poniran (43), pengendara roda dua Yamaha Vega ZR, asal Manyar, mengatakan antre di Siola sejak pukul 06.00.

Ia mengaku, tertangkap kamera CCTV tilang elektronik saat melanggar marka di Jalan Dharmawangsa, selepas pulang dari kerja, Sabtu (7/2/2020) sore.

"Ke depan data kendaraan beserta foto harus jelas dan lengkap. Selain itu, layanan administrasi juga dipermudah. Tujuannya biar meringkas waktu. Soalnya ini kan serba canggih. Kalau sudah canggih gitu cuma butuh waktu yang sebentar," harapnya.

Sementara Abdul Aziz (49), warga Kedurus, Surabaya, mengatakan datang mengurus di Posko Gakkum, Siola sedari pukul 07.00.

Dia baru mendapat panggilan petugas Posko Gakkum untuk mengurus e-tilang pukul 13.45 atau lebih dari enam jam.

"Saya datang pukul 07.00 mendapat antrean 77. Hari ini cukup banyak pengendara yang mengurus e-tilang. Kalau jam 08.00 ke sini bisa tak kebagian nomor antrean karena kuotanya cuman 150 orang. Maka dari itu saya datang lebih pagi. Tapi nyatanya tetap lama. Saya berharap ada inovasi pengurusan e-tilang," ujarnya.

Menurutnya, mekanisme pelayaan tilang model baru tersebut juga rumit.

Seharusnya setelah membayar denda tak perlu ke Kejaksaan Negeri Surabaya.

"Saya berharap, pengurusan e-tilang bisa dilakukan di satu tempat saja agar tak memakan waktu," pungkasnya.

Tambah petugas

Kepala Urusan Pembinaan Operasi (KBO) Satlantas Polrestabes Surabaya AKP M Suud menjelaskan, CCTV E-TLE hanya membidik pelat nomor kendaraan.

Selanjutnya data pelat nomor kendaraan akan diverifikasi dengan data Electronic Registration and Identification (ERI) atau Samsat.

"Apa yang ter-screenshot dan terekam di CCTV akan dikirim oleh Dishub Surabaya ke RTMC (Regional Traffic Management Center) Polda Jatim. Rekan-rekan Polda Jatim akan menganalisa apakah pengendara melakukan pelanggaran atau tidak. Di tahap ini dibutuhkan ketelitian untuk menganalisa," katanya, Minggu (23/2/2020).

Dia melanjutkan, setiap hari ada 500 bahkan ribuan screenshot CCTV E-TLE yang dikirim ke RTMC.

Dengan jumlah yang sebanyak itu, bukan tidak mungkin bisa terjadi kesalahan dalam menentukan pengendara melanggar atau tidak.

"Saking banyaknya data yang masuk, kesalahan bisa saja terjadi. Per hari ada ribuan data yang masuk. Banyak pula proses yang dilakukan, mulai dari memadukan data registrasi kendaraan di Samsat hingga menganalisa hasil screenshot CCTV E-TLE. Terkait keakuratan dan kualitas CCTV sudah bagus," jelasnya.

"Maka dari itu kami kirim surat konfirmasi ke pengendara bukan surat tilang. Kalau pengendara punya argumen atau ingim menyangkal pelanggaran bisa di Posko Gakkum Siola," sarannya.

Suud tak menampik bila ada kasus pelat nomor ganda atau manipulasi plat nomor seiring diberlakukannya E-TLE.

Pihaknya akan mengavaluasi masalah ini dan meminta kepada petugas lapangan untuk segera mengambil tindakan bila bertemu dengan kendaraan tersebut.

Di sisi lain, pihaknya telah membuat aplikasi untuk pengurusan surat e-tilang agar para pengendara tak perlu lagi mengantre berjam-jam di Posko Gakkum.

Pengurusan e-tilang bisa dilakukan lewat aplikasi itu. Namun sayangnya, aplikasi ini masih dalam proses perbaikan.

Lamanya proses pengurusan, menurut pengamatan Suud, karena warga masih banyak yang berargumen dan berdalih bila tak melanggar.

Selain itu, pengendara banyak yang meminta saran kepada petugas saat mengurus.

Maklum saja E-TLE baru diterapkan di Surabaya. Sebetulnya pengurusan E-TLE tak sampai 10 menit.

Antisipasi jangka pendek yang akan dilakukan pihaknya yakni menambah satu unit komputer dan meja pelayanan.

Saat ini di Posko Gakkum Siola terdapat tiga unit komputer dan tiga petugas yang melayani pengurusan E-TLE.

"Aplikasi itu tak diunduh di ponsel. Pelanggar cukup men-scan barcode yang terdapat di surat e-tilang untuk menghubungkan ke aplikasi. Selanjutnya pelanggar tinggal mengisi data pribadi dan nomor telepon. Kemudian melakukan pembayaran melalui mesin ATM atau M-banking," pungkasnya. (Danendra/Febrianto Ramadani)

Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved