Citizen Reporter

Sugeng Mengeti Dinten Basa Ibu, Pahamkah Maksudnya?

Pahamkah maksud judul Sugeng Mengeti Dinten Basa Ibu? Itu bahasa Jawa yang berarti selamat memperingati Hari Bahasa Ibu.

Sugeng Mengeti Dinten Basa Ibu, Pahamkah Maksudnya?
citizen reporter/Arina Ayu Pramudita
Para guru Bahasa Jawa membahas teks bahasa Jawa yang digunakan untuk materi membaca nyaring. 

Hari Bahasa Ibu Internasional diperingati setiap 21 Februari. Dispusip Kota Surabaya bersama Reading Bugs, Dinas Pendidikan, dan Dharma Wanita pun turut serta memperingatinya, Jumat (21/2/2020) dengan mengadakan pelatihan Budering (Ibu Berdaya dengan Membaca Nyaring) dan peluncuran buku bacaan anak berbahasa Jawa.

Bertempat di Gedung Wanita, Jalan Kalibokor Selatan Surabaya, acara itu berlangsung pukul 13.00—16.00. Pelatihan itu diikuti para guru pelajaran Bahasa Jawa dan petugas pendamping perpustakaan sekolah dari 31 kecamatan di Surabaya. Menurut Musdiq Ali Suhudi, Kepala Dispusip Kota Surabaya, keterlibatan para guru Bahasa Jawa sebagai peserta pelatihan diharapkan bisa menjadi salah satu sarana dalam menjembatani pelestarian bahasa daerah.

Prosesi peluncuran buku ditandai dengan aksi Arum yang membacakan nyaring buku bacaan berbahasa Jawa berjudul Dina Kapisan Ing Sekolah. Serunya, Arum yang terbiasa mendongeng menggunakan bahasa Indonesia hanya bisa tersipu malu ketika para guru dengan sabar mengoreksi pengucapan kata-kata yang ia pakai untuk membaca nyaring seperti belo (anak kuda) dan cemeng (anak kucing).

“Saya merasa agak kesulitan karena tidak terbiasa membaca nyaring menggunakan bahasa Jawa,” ujar Arum.

Roosie Setiawan, pakar read aloud di Indonesia, mengawali materi dengan menjelaskan definisi membaca nyaring. Ia juga menambahkan, membaca nyaring bermanfaat untuk menambah perbendaharaan kosakata anak.

Dibutuhkan tiga unsur penting saat membaca nyaring yaitu orang yang membacakan cerita, anak yang dibacakan cerita, dan buku yang dibacakan. Buku cerita yang dipilih sesuai dengan kemampuan baca anak seperti buku kain untuk anak usia 0-3 tahun dan buku bergambar untuk anak usia 3-9 tahun.

Setelah sesi materi, para peserta kemudian dibagi dalam enam kelompok. Mereka diminta membuat kajian teks sederhana dari buku bacaan yang sudah disiapkan. Komponen dalam kajian teks sederhana adalah unsur intrinsik dan ekstrinsik cerita, tinjauan kosakata sulit, serta daftar pertanyaan yang bisa dipakai untuk berdiskusi dengan pendengar cerita. Kegiatan ini dibantu oleh beberapa fasilitator yang sudah pernah mengikuti pelatihan Budering.

“Diharapkan dengan adanya pelatihan Budering ini, ibu-ibu dan kakak-kakak sekalian bisa menerapkan ilmu membaca nyaring di sekolah masing-masing dan membuat anak semakin tertarik untuk membaca,” jelas Roosie.

Arina Ayu Pramudita
Pegiat Literasi
Petugas TBM RW 9 Pacarkeling, Surabaya
arinarinyo@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved