Citizen Reporter

Jangan Hanya Estetika, Desain Perpustakaan Harus Inklusif Ramah Disabilitas

Perpustakaan menjadi ruang publik yang seharusnya bisa diakses dengan mudah. Desain perpustakaan harus ramah disabilitas.

Jangan Hanya Estetika, Desain Perpustakaan Harus Inklusif Ramah Disabilitas
citizen reporter/Vivi Sulviana
Desain perpustakaan harus ramah untuk disabilitas.

Seminar bertajuk Perpustakaan Inklusif bagi Kota Surabaya: Pelibatan Disablilitas dalam Redesain Inklusif diadakan Sabtu (15/2/2020). Acara yang diadakan UK Petra itu berlangsung di Gedung Balai Pemuda Surabaya.

Arina Hayati, dosen Arsitektur ITS mengingatkan pentingnya akses yang universal untuk penyandang disabilitas, termasuk perpustakaan. Di Surabaya, akses disabilitas pada pedestrian masih tidak konsisten.

Acara itu diikuti oleh kurang lebih 70 peserta dari berbagai instansi pemerintah dan perwakilan komunitas.

Kegagalan desain inklusi dan aksesibilitas dalam desain arsitektur, pendidikan dan praktis. Banyaknya desain inklusi dalam arsitektur lebih mementingkan estetika saja. Maka dalam peningkatan desain inklusif, peran penyandang disabilitas sangat dibutuhkan.

Perpustakaan UK Petra melakukan beberapa workshop mengenai desain aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Dian Wulandari selaku Kepala Perpustakaan UK Petra turut menyampaikan beberapa rencana desain aksesibilitas yang dinamis dan sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas.

Tak hanya pemaparan dari beberapa pembicara, namun undangan seminar juga diajak untuk berkunjung dan melihat Perpustakaan Balai Pemuda. Perpustakaan Balai Pemuda merupakan perpustakaan yang aksesibel bagi penyandang disabilitas. Undangan yang hadir dibagi ke dalam tiga kelompok kunjungan.

Di tiap kunjungan, didampingi oleh penyandang disabilitas netra, yang kemudian membagikan pengalaman selama kunjungan. Di kelompok 3 didampingi oleh Tutus Setiawan.

Tutus menyampaikan beberapa arti mengenai desain inklusif di Perpustakaan Balai Pemuda. Desain lantai misalnya yang dibuat berbeda. Hal itu bertujuan untuk memberi kode bagi penyandang disabilitas netra khususnya. Para undangan mencoba desain inklusif menggunakan tongkat agar lebih bisa merasakan perbedaan.

Seminar ini dihadiri beberapa petugas Taman Baca Masyarakat (TBM) di Kota Surabaya. Riska, petugas TBM di wilayah Kecamatan Wonokromo, menyampaikan bahwa penting untuk membangun fasilitas publik yang ramah penyandang disabilitas. Menurutnya, seminar ini dapat dijadikan saran agar fasilitas umum di Kota Surabaya, khususnya perpustakaan, menjadi lebih aksesibel.

Vivi Sulviana
Petugas TBM RW 3 Jagir
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya
vivisulviana@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved