Sosok

Pipit Desi Ratnasari: Terapi Anak Broken Home

Perceraian kerap menyisakan trauma bagi anak-anak. Banyak anak dari keluarga bercerai atau broken home kerap memiliki kepribadian buruk.

Pipit Desi Ratnasari: Terapi Anak Broken Home
surya.co.id/sulvi sofiana
Pipit Desi Ratnasari 

SURYA. co. id | SURABAYA - Perceraian kerap menyisakan trauma bagi anak-anak. Banyak anak dari keluarga  bercerai atau broken home kerap memiliki kepribadian buruk.

Melihat hal ini, wisudawan Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Pipit Desi Ratnasari mencoba terapi yang bisa diterapkan untuk membantu trauma pada anak yang mengalami broken home.

"Banyak keluarga dan teman yang orangtuanya broken home dan anaknya trauma. Prihatin akan hal itu saya membuat ekspresif writing terapi untuk solusi agar anak bisa membuka diri, " ungkap alumnus SMA Pemuda Blitar ini.

Menurut Pipit, sapaan akrabnya, melalui terapi ini bisa menilai seberapa trauma anak akan perceraian yang terjadi di keluarganya.

Hal ini dilihat dari bentuk cerita yang dipaparkan anak dalam tulisan selama terapi.

"Ada tiga pertemuan, dari hasil pertemuan ini anak-anak diarahkan agar bisa membuka diri. Karena trauma yang dialami mereka sensitif, " ungkap gadis kelahiran Blitar, 17 Desember 1995 ini.

Dalam pertemuan pertama,lanjutnya, anak diajak berimajinasi dengan mendefinisikan bahagia dan keluarga.

Nantinya anak bisa mengungkapkan dalam satu kata, kalimat atau gambar.

"Tahap pertama ini masuk kembali ke masalah dengan menulis bebas. Pertemuan kedua menceritakan pengalaman bahagia dan pengalaman bahagia bersama keluarga,"jelasnya.

Tahap selanjutnya, masuk pada pengalaman menyedihkan. Sehingga dalam prosesnya, anak diajak membuka diri dan mendefinisikan yang dirasakan. Mulai dari pengalaman bahagia hingga menyedihkan.

"Nantinya pengalaman anak-anak ini bisa dijadikan buku dan menjadi media anak untuk mengurangi beban akan depresi akibat perceraian orang tua," ujarnya.

Ia pun berharap terapi yang disusun ini akan mengurangi dampak negatif akan gangguan psikologis akan setelah perceraian orang tuanya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved