Berita Surabaya

UKWMS Yudisium 106 Guru Bahasa Inggris Program PPG

106 guru Bahasa Inggris mengikuti yudisium di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (FKIP UKWMS)

UKWMS Yudisium 106 Guru Bahasa Inggris Program PPG
SURYA.co.id/Sulvi Sofiana
Para peserta yudisium berfoto bersama di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (FKIP UKWMS), Sabtu (22/2/2020). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sebanyak 106 guru Bahasa Inggris mengikuti yudisium setelah menuntaskan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (FKIP UKWMS)

Ketua PPG, Prof Agustinus Nadiman mengungkapkan melalui program PPG ini, kompetensi dan profesionalisme guru terbukti kualitasnya.

"Pesertanya pun beragam, selain dari Provinsi JawaTimur, ada pula yang berasal dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) seperti dari kabupaten Manggarai, Timor Tengah Selatan (TTS), Pulau Flores dan Pulau Sumba, "ujarnya di sela yudisium yang diadakan di UKWMS, Sabtu (22/2/2020).

Dikatakan Prof Agustinu, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik.

"Maka seorang guru harus kompeten. Kompetensi guru diperoleh melalui pendidikan profesi, PPG ini. Para calon guru ini bis ikut PPG setelah program sarjana atau sarjana terapan untuk mendapatkan sertifikat pendidik," lanjutnya.

Dewan Pendidikan Jatim, Prof Muzakki Yang juga hadir untuk mengisi seminar mengungkapkan dengan menuntaskan PPG maka guru harus mampu menjadi guru yang merdeka. Yaitu mampu menyelesaikan permasalahan pribadinya sebelum mengurus para siswa.

“Selain menyelesaikan dirinya sendiri, seorang guru harus memiliki jiwa nasionalis, serta memenuhi aspek literasi yang terdiri atas aspek akademik, aspek keagamaan dan aspek kebangsaan, sehingga dapat diciptakan siswa dengan pola pikir kritis, " ungkap pria yang juga guru besar UINSA ini.

Pola pikir kritis, menurut Prof Muzakki, sangat diperlukan karena selama ini rasa nasionalisme telah menurun di kalangan anak muda.

Ia menambahkan, guru memiliki posisi yang amat penting dalam menjaga nasionalisme.

Menurutnya, membenahi negeri juga harus dimulai dari posisi guru, sebagai seorang pengajar dan pemberi masukan, terlebih pada era post-truth.

Seorang guru pun, katanya harus bertindak profesional dan nasionalis.

“Fungsi guru sendiri ada dua, yaitu sebagai sumber informasi (source of knowledge) dan sumber teladan (source of manner). Fungsi sebagai sumber informasi sendiri lama-lama sudah tergantikan oleh IT. Tapi guru tidak boleh lupa bahwa ia juga harus berfungsi sebagai sumber teladan,” jelasnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved