Berita Surabaya

Pura-pura Dirikan Taman Baca, Terbongkar Tujuan Lain Pria Asal Keputih Surabaya Ini

Abdul Rochim merupakan pendiri taman baca di kampungnya, kawasan Keputih. Nyatanya ia punya tujuan lain.

Penulis: Samsul Arifin | Editor: Titis Jati Permata
tribun jatim/samsul arifin
Terdakwa Abdul Rochim sesaat sebelum menjalani sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu (19/2/2020). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Terdakwa Abdul Rochim menjalani sidang atas kasus dugaan pencabulan di PN Surabaya, Rabu (19/2/2020).

Pria 44 tahun ini dituntut Jaksa dari Kejari Surabaya dengan hukuman penjara selama tujuh tahun.

Selain itu, dia juga dijatuhi denda sebesar Rp 5 juta.

Ironisnya, Rochim merupakan pendiri taman baca di kampungnya, kawasan Keputih.

Sidang digelar secara tertutup.

Selama 20 menit berjalan, sidang dinyatakan selesai.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Deddy Arisandi mengatakan terdakwa ini mengidap pedofilia.

"Terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 82 ayat (1) UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perubahan kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak," ungkap JPU Deddy setelah sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Rabu, (19/2/2020).

Niat Rochim mendirikan taman bacaan di dekat rumahnya di Jalan Keputih Utara, bukan semata untuk tujuan baik.

Diam-diam ia memiliki tujuan lain, padahal tempat itu semestinya jadi gudang ilmu dan edukasi ke para pengunjung yang didominasi anak-anak itu.

Bahkan, di lokasi itu dia tega mencabuli korbannya sebut saja Bunga.

Kasus ini terungkap setelah orang tua Bunga curiga mendapati anaknya mengeluh sakit saat buang air kecil.

Setelah didesak, bocah ini mengaku terus terang jika diperlakukan tidak senonoh oleh Abdul Rochim.

Mendengar penuturan putrinya, orang tua korban kaget dan segera melaporkan peristiwa itu ke sentra pelayanan kepolisian terpadu (SPKT) Polrestabes Surabaya, dan proses selanjutnya diambil alih oleh Unit PPA.

Dari pengakuan Abdul Rochim saat penyidikan, aksi bejatnya terhadap bocah itu dilakukan dua kali.

Agar tidak mudah ketahuan warga dan anak lainnya, pria ini sengaja menunggu kondisi sepi.

Jika ada pengunjung, ia berpura-pura memangku korban sekaligus membacakan dongeng.

Selain itu, dalam penyidikan di kepolisian, Abdul Rochim mengaku semua yang dilakukan itu karena khilaf.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved