Kamis, 16 April 2026

citizen reporter

Mencari Toleransi Usai Konflik di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang

Konflik antarkelompok menyisakan luka batin. Usai konflik, anak-anak muda berusaha merawat toleransi agar sejarah kelam tidak terulang.

Editor: Endah Imawati
citizen reporter/Bagus Rachmad Saputra
Diskusi film Beta Ingin Jumpa membahas toleransi pascakonflik di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang. 

Sebagai negara yang majemuk terdiri atas berbagai suku, agama, ras, dan etnis, Indonesia sangat rentan dengan konflik horizontal. Komunitas Heuristik.id saat diskusi dan nobar film di di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang (UM) mencatat beberapa kali Indonesia dirundung konflik atas nama suku, agama, dan ras. 

Salah satunya adalah konflik Ambon yang terjadi medio 1999 sampai 2001. Konflik yang bermula dari cekcok antarwarga itu kemudian meluas menjadi konflik atas nama agama dengan ribuan nyawa menjadi korban.

Belajar dari persitiwa itulah, komunitas Heuristik.id menggelar nonton film bareng dan diskusi film Beta Ingin Jumpa. Itu salah satu film dokumenter garapan Watchdog yang menceritakan kondisi masyarakat Ambon pascakonflik itu.

Acara yang digelar Jumat (14/2/2020) di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang (UM), menarik sejumlah mahasiswa yang berasal dari berbagai kampus. Mereka ingin melihat sekaligus bertukar gagasan setelah melihat film yang berdurasi 35 menit itu.

Mereka ingin menggali makna tentang bagaimana sejarah konflik di Indonesia yang menyebabkan jatuhnya korban dan peran negara pascakonflik. Salah satunya Michael Fernandes yang menanyakan mengapa negera tidak bisa mengantisipasi konflik antaragama itu.

Pertanyaan yang dijawab oleh pembahas, Nanda Harda Pratama Meiji, dosen Sosiologi UM yang menjelaskan, masyarakat membutuhkan sebuah identitas. Salah satunya adalah agama. Begitu terjadi konflik yang dipantik atas nama agama atau suku, konflik itu akan cepat meluas.

“Ketika konflik yang terjadi sudah digeser dengan membawa nama agama, suku, atau ras maka dengan cepat pula konflik itu meluas karena sentimen identitas kerap menjadi bom waktu penyebab konflik di Indonesia,” tutur pria yang akrab disapa Nanda itu.

Sementara di sisi lain, Setian M Akbar dari Forum Mahasiswa Maluku Bersatu (FMMB) menjelaskan, kondisi pascakonflik Ambon, masyarakat di sana terpetak-petak. Ada yang bermigrasi ke kampung lain dengan agama tertentu yang dominan di daerah itu. Namun, Satian menambahkan, meski terpetak-petakkan dalam wilayah tempat tinggal, tetapi nilai toleransi sangat dijunjung masyarakat Ambon.

“Setiap ada hari besar agama, kami saling mengunjungi. Kami tahu ada peristiwa kelam di masa lalu, tetapi bukan berarti kami tidak bisa bersatu,” jelas Satian. Sejarah mengajarkan tentang bagaimana masyarakat bisa saling menghargai perbedaan dalam sebuah toleransi keberagaman. Peristiwa di masa lalu menjadi pembelajaran agar peristiwa serupa tak lagi terjadi di masa depan.

Bagus Rachmad Saputra
Mahasiswa Manajemen Pendidikan
Pascasarjana Universitas Negeri Malang
bagusrachmad94.blogspot.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved