citizen reporter
Kampung Moco Suroboyo, Upaya Menjauhkan Anak dari Gadget
Mahasiswa KKN Tematik Universitas Bhayangkara membuat Kampung Moco Suroboyo di Wiyung, Surabaya. Mereka mengajak warga melek literasi.
Ada yang berbeda saat memasuki kawasan RT 5, RW 1 Wiyung, Surabaya, Minggu (16/2/2020). Nuansa literasi sangat terasa di kampung yang berlokasi di kawasan Surabaya Barat. Ada Kampung Moco Suroboyo dan mural unik.
Mural-mural yang bertuliskan kata-kata motivasi membaca terlihat di beberapa bagian. Ada juga gerobak baca berisi buku-buku bacaan serta belasan anak yang asyik membaca di sebuah pos.
Itulah suasana Kampung Moco Suroboyo, sebuah kampung tematik baru. Kampung Moco Suroboyo merupakan salah satu program kerja KKN Tematik Universitas Bhayangkara Surabaya (Ubhara) pada 2020. KKN Tematik diikuti mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Hukum Ubhara.
Kampung Moco Suroboyo diresmikan 26 Januari 2020 oleh dosen Pembimbing Lapangan KKN Tematik Ubhara, Heri Kusairi bersama Sugeng, Babinsa Wiyung. Saat itu juga hadir perangkat kelurahan setempat serta dihadiri puluhan warga. KKN Tematik Kampung Moco Suroboyo dilaksanakan Januari-Februari 2020 dengan program-program yang berhubungan dengan literasi.
Lia Oktiana, Koordinator Lapangan KKN Tematik Kampung Moco Suroboyo mengungkapkan, misi utama program itu untuk meningkatkan minat baca warga, terutama anak-anak di kawasan RT 5, RW 1 Wiyung. ”Saat ini anak-anak lebih akrab dengan ponsel daripada buku, padahal manfaat buku untuk anak itu sangat banyak. Membaca buku bisa menambah wawasan dan meningkatkan imajinasi anak,” kata Lia.
Dari sinilah ide untuk membuat Kampung Moco Suroboyo itu timbul. Mereka membuat program-program agar warga dan anak-anak lebih dekat dengan buku dan mencintai aktivitas membaca buku. Pada akhirnya itu akan mengurangi penggunaan gadget yang berlebihan.
Program diawali dengan sosialisasi kepada warga dan anak-anak tentang pentingnya meningkatkan minat baca serta bahaya penggunaan gadget yang berlebihan.
Dalam sosialisasi itu warga dan anak-anak sangat antusias. Cahyo, salah satu warga mengatakan, tidak adanya fasilitas yang memadai merupakan faktor utama anak-anak lebih suka bermain gadget daripada membaca buku.
Sementara untuk mewujudkan Kampung Moco Suroboyo, sejak Januari para mahasiswa menggalang donasi buku, mempersiapkan fasilitas fisik berupa perpustakaan mini, serta membuat gerobak baca dan mural. Mahasiswa memanfaatkan pos dengan ukuran ruang 4 m x 5 m dengan faslitas etalase buku, kipas angin, dan beralaskan karpet. Itu membuat perpustakaan mini cukup nyaman untuk warga dan anak-anak saat membaca buku.
Diharapkan setiap hari warga dan anak-anak melihat mural-mural yang dibuat agar semakin termotivasi untuk membaca. Selain itu, mural bisa menjadi daya tarik untuk berswafoto.
Program berlanjut di Februari dengan melakukan kegiatan-kegiatan literasi untuk anak-anak.
Kegiatan pertama yaitu gerobak baca keliling. Para mahasiswa dan anak-anak berkeliling menggunakan gerobak yang sudah didesain khusus untuk memamerkan buku-buku hasil donasi di bulan sebelumnya.
Warga sangat antusias. Mereka berbondong-bondong keluar untuk menghampiri gerobak baca dan meminjam buku-buku yang ada.
Selanjutnya ada aktivitas bercerita untuk anak. Mereka saling bercerita kepada teman-temannya tentang buku yang telah mereka baca. Anak-anak sangat senang mengikuti permainan dan kuis.
Saat penutupan program KKN Tematik pada 23 Februari 2020, perpustakaan mini dan gerobak baca dari Ubhara akan diserahkan kepada warga. Mahasiswa berharap, apa yang mereka buat dapat bermanfaat untuk masyarakat.
Rahmad Wahyudi
Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Universitas Bhayangkara Surabaya
laksmanafaatih@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/kampung-moco-suroboyo.jpg)