Berita Bisnis

PTPN XI Ekspor Perdana Daun Tebu Kering ke Jepang, Hasilnya Mampu Menutup Biaya Kebun

"Hasilnya menjanjikan pendapatan yang tinggi bahkan cukup untuk menutupi biaya kebun yang berpengaruh positif terhadap HPP"

PTPN XI Ekspor Perdana Daun Tebu Kering ke Jepang, Hasilnya Mampu Menutup Biaya Kebun
PTPN XI
Dirut PTPN XI, Gede Meivera Utama Adnjana saat melepas ekspor perdana daun tebu kering di PG Djatiroto, Lumajang, Jumat (14/2/2020). 

SURYA.co.id | SURABAYA - PT Perkebunan Nusantara XI atau PTPN XI bekerja sama dengan mitra yang bergerak di bidang bisnis produksi dan perdagangan biomassa, melakukan ekspor perdana daun tebu kering atau biasa disebut daduk, istilah internasionalnya adalah Sugar Cane Top (SCT) .

Ekspor Perdana dikirim ke Jepang pada Jumat (14/2/2020) pagi ini, dengan seremoni pelepasan di Pabrik Gula (PG) Djatiroto, Lumajang.

"Kami memanfaatkan peluang yang selama ini dengan tidak sadar seolah disia-siakan bahkan berpotensi merusak lingkungan dengan membakar daun tebu kering atau daduk, dalam istilah lainnya SCT," jelas Direktur Utama PTPN XI, Gede Meivera Utama Adnjana Putera, di sela acara, Jumat (14/2/2020).

Sementara, diketahui juga bila tanaman tebu dari pucuk sampai akar ada manfaatnya. Daun tebu kering atau daduk tersebut dipasok dari kebun tebu milik PTPN XI.

Asumsi perolehan jumlah daun kering sebanyak 2 persen pada saat masa pemeliharaan (klentekan) dan 10 persen pada saat musim giling/panen dan protas sebesar 800 Ku/Ha, maka potensi pasokan daduk diperkirakan ± 16 Ku/Ha pada masa pemeliharaan dan ± 80 Ku/Ha pada masa panen.

"Ke depan akan kami kembangkan melalui inovasi-inovasi milenial PTPN XI terkait pengembangan pemanfaatan tanaman tebu selain bisnis inti yang sudah berjalan yakni gula," ungkap Gede.

Sementara ini, pihaknya mencoba mengekspor daduk yang berpotensi sebagai bahan baku cukup besar. Yaitu di kisaran 16 kuintal per hektare pada masa pemeliharaan dan 80 kuintal per hektare pada masa panen.

"Hasilnya menjanjikan pendapatan yang tinggi bahkan cukup untuk menutupi biaya kebun yang berpengaruh positif terhadap HPP (Harga Pokok Petani) kami," tambah Gede.

Seperti diketahui dalam fase pertumbuhan tanaman tebu dilakukan klentek pengupasan daun kering sebanyak dua kali. Dengan tujuan, untuk memperlancar sirkulasi udara dan proses fotosintesis, menaikkan rendemen, mencegah keluarnya akar pada ruas, mencegah kebakaran kebun tebu, mengurangi kelembaban hingga meringankan beban tanaman sehingga tidak mudah roboh.

Daduk, hasil kegiatan klentek atau sisa tebangan biasanya menjadi sampah dan kebanyakan dibakar langsung di lahan. Karena dianggap sebagai pilihan paling praktis untuk persiapan lahan penanaman tebu (plantance) atau pekerjaan pemeliharaan tanaman keprasan (ratoon cane). Hal ini berdampak pada pencemaran udara.

Dengan tidak dilakukannya pembakaran daun tebu, juga bermanfaat mengurangi resiko ketidakseimbangan populasi fauna tanah dan mempertahankan kandungan bahan organik tanah.

Terpisah, Komisaris Utama PTPN XI, Dedy Mawardi memberikan apresiasi atas inisiatif manajemen.

"Komisaris mengapresiasi kinerja Direksi beserta jajaran yang memanfaatkan daduk yang selama ini dianggap sebagai sampah tebu menjadi memiliki competitive advantages terlebih untuk kepentingan eksport ke Jepang, dalam artian juga mendukung program pemerintah dalam meningkatkan eksport secara luas," kata Dedy yang disampaikan di sela kegiatan Kick Off Meeting Assesment, GCG Holding Perkebunan Nusantara di Bandung, Kamis (13/2/2020) kemarin.

Direncanakan ekspor akan dilakukan berkala tergantung kesediaan bahan baku, mengikuti pekerjaan kebun yakni masa klentek dan panen.

"Sebagai awalan ekspor daduk ini sejumlah 17 ton berasal dari lahan HGU PG Djatiroto. Bila mitra petani berminat maka akan kami kembangkan di wilayah lainnya," jelas Gede.

Terkait dengan kegunaan daduk tersebut bagi negara importir pihaknya memberikan keterangan bahwa akan digunakan sebagai soil conditioner atau tambahan unsur hara untuk meningkatkan kualitas tanah dan mulsa. Yaitu dengan menutup permukaan tanah guna menjaga kelembapan dan menghindari penguapan yang lebih tinggi, menghambat tumbuhan gulma hingga bila daduk tersebut lapuk akan menjadi pupuk organik penyedia unsur hara bagi tanah.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved