Berita Jember

Polisi Minta Warga Mewaspadai Peredaran Uang Palsu di Musim Pilkada Serentak

Kapolres Jember, AKBP Alfian Nurrizal meminta masyarakat mewaspadai peredaran uang palsu di tahun politik 2020.

Polisi Minta Warga Mewaspadai Peredaran Uang Palsu di Musim Pilkada Serentak
surabaya.tribunnews.com/sri wahyunik
Kapolres Jember, AKBP Alfian Nurrizal menunjukkan barang bukti uang palsu yang disita dari 2 tersangka. 

SURYA.co.id | JEMBER - Kapolres Jember, AKBP Alfian Nurrizal meminta masyarakat mewaspadai peredaran uang palsu di tahun politik 2020.

Tahun 2020 Kabupaten Jember termasuk daerah yang bakal menggelar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada September 2020 mendatang.

Alfian mencurigai peredaran uang palsu yang dilakukan oleh dua orang tersangka Tehgno Axel Syaputra (38), dan Sunarsi (60), ada keterkaitan dengan Pilkada.

"Uang palsu ini bisa jadi ada keterkaitan dengan Pilkada, karena kami mengantisipasi terjadinya money politics yang dilakukan oleh orang atau kelompok tertentu. Jangan sampai terjadi money politics, atau penggunaan uang palsu di money politics," ujar Alfian saat rilis pengungkapan peredaran uang palsu di Mapolres Jember, Rabu (12/2/2020).

Polisi mencurigai uang palsu itu dipakai untuk kegiatan terkait Pilkada karena siapapun bisa memesan uang palsu kepada dua orang tersangka itu.

Menurut Alfian, dua orang tersangka itu menerima pemesanan uang palsu. Uang palsu dipesan melalui Tehgno, warga Desa Mlokorejo Kecamatan Puger. Tehgno menerapkan tarif tertentu untuk setiap bendel uang palsu yang dijualnya.

Tehgno lantas membeli uang palsu kepada Sunarso, warga Desa Kertonegoro Kecamatan Jenggawah.

Seperti contoh dalam transaksi yang akhirnya diungkap oleh Satreskrim Polres Jember itu, Tehgno membeli Rp 4 juta untuk uang palsu 16 juta kepada Sunarso. Istilah yang mereka pakai pembelian 1 : 4. Pembelian tentunya memakai uang palsu. Jadi uang asli Rp 4 juta untuk mendapatkan uang palsu 16 juta, dalam lembaran 50 ribu dan 100 ribu. Semuanya ada 222 lembar, rinciannya 98 lembar pecahan 100 ribu dan 124 lembar pecahan 50 ribu.

"Jadi tersangka ini memang menerima pesanan," tegas Alfian.

Karenanya, kata Alfian, masyarakat sebaiknya berhati-hati dan waspada. Meskipun tidak terkait politik uang, warga harus berhati-hati terhadap peredaran uang palsu.

Uang palsu yang diedarkan oleh Tehgno dan Sunarso mudah dikenali. Uang tersebut tidak memiliki nomor seri yang urut, tidak ada hologram, kertas terlalu halus, juga pita penanda berbeda dari uang asli.

Sunarso mengakui jika dilihat secara teliti uang palsu yang diedarkannya mudah dikenali. "Kertasnya halus," kata Sunarso.

Sunarso mendapatkan uang palsu itu dari seseorang di Pulau Madura. Dia membeli memakai perbandingan 1 : 5. Kini pemasok uang palsu dari Pulau Madura itu masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Teghno dan Sunarso sendiri adalah residivis peredaran uang palsu. Keduanya pernah dtahan di Lapas Lowokwaru, Kota Malang, karena menjadi terpidana kasus peredaran uang palsu.

Kini keduanya kembali terjerat dalam kasus yang sama. Polisi menerapkan UU No 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang kepada keduanya. Pasal yang dipakai adalah Pasal 36 ayat (2) (3) tentang setiap orang yang menyimpan secara fisik dan mengedarkan dengan cara apapun yang diketahuinya merupakan rupiah palsu, maka terancam pidana 15 tahun, atau dendan Rp 50 miliar.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved