Grahadi

Pemprov Jatim

Hijaukan Kembali Lahan Gundul, Pemprov Jatim Siapkan Teknis Tabur Benih dari Udara

Langkah penghijauan kembali hutan pasca terjadi kebakaran yang menyebabkan lahan gundul di sejumlah daerah di Jawa Timur

Hijaukan Kembali Lahan Gundul, Pemprov Jatim Siapkan Teknis Tabur Benih dari Udara
SURYA.co.id/Galih Lintartika
ILUSTRASI - Kondisi salah satu hutan yang gundul di Jawa Timur. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Jawa Timur, Dewi Putriatni tengah menyiapkan teknis tabur benih dari udara di sejumlah area lahan kritis di Jawa Timur, menindaklanjuti perintah dari Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa.

Upaya ini dilakukan sebagai langkah penghijauan kembali hutan, pasca terjadi kebakaran yang menyebabkan lahan gundul dan diikuti oleh banjir bandang di sejumlah daerah di Jawa Timur seperti Jember dan Situbondo beberapa waktu lalu.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas lahan yang terbakar di Jawa Timur seluas 2019 23.655 hektar.

Dewi menjelaskan, sebelum melakukan tabur benih dari udara salah satu langkah penting yang dilakukan terlebih dahulu adalah menyiapkan tim teknis.

Tim ini nantinya akan menentukan pemetaan tabur benih di lahan kritis dengan mempertimbangkan sejumlah faktor, salah satunya adalah ketinggian area dan kecocokan benih tanaman agar bisa tumbuh subur pada zona tertentu.

"Memang tidak bisa sembarangan. Jadi zonasi tertentu itu cocok untuk benih apa? Semua ada di peta zonasi itu," ujar Dewi, Selasa (11/2/2020).

Dewi mencontohkan, benih buni dan beringin misalnya yang mampu tumbuh di lahan dengan ketinggian 0-1000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kemudian Makadamia yang bisa tumbuh di lahan dengan ketinggian di atas permukaan 0-1.100 mdpl dan asam 0-1.500 mdpl.

Sebelum disebar, Dewi juga menjelaskan bahwa cangkang dari benih harus dipecahkan terlebih dahulu dengan merendam biji di air panas lalu didinginkan dan diulangi hingga cangkang pecah.

Setelah itu, benih harus disemai terlebih dahulu hingga berkecambah baru lah mulai disebar.

Proses ini perlu dilakukan uji daya kecambah, termasuk ketahanan terhadap air dan sebagainya dari masing-masing benih yang akan disemai.

"Itu harus diuji di lab dan harus ada SNI yang diikuti. Supaya nanti ketika disemai, hasilnya bisa maksimal dan tidak sia-sia," tutur Dewi.

Hal ini penting dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan upaya tabur benih dari udara. Mengingat tingkat keberhasilannya di bawah 10 persen.

Karena benih yang disebar sangat memungkinkan tidak sesuai tempat tumbuh, dimakan satwa, hanyut terbawa air atau tidak mencapai tanah dan sebagainya.

Selain itu, Dewi juga memperhatikan harga benih yang relatif mahal seperti benih Makadamia, selain itu ongkos pesawat untuk menyebar benih juga mahal. 

Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved