Membumikan Kitab Suci ala Pesantren Salaf Al-Quran (PPSQ) Asy-Syadzili

Metode menghafal tiap santri tidak selalu sama. Ada yang satu ayat diulang-ulang sampai hafal baru melanjutkan ayat yang lain.

Citizen Reporter/M Agus Susanto
Membumikan Kitab Suci ala Pesantren Salaf Al-Quran (PPSQ) Asy-Syadzili 

SURYA.co.id - Luar biasa! Ungkapan itulah yang pas buat para santri penghafal Alquran Pondok Pesantren Salaf Al-Qur’an (PPSQ) Asy-Syadzili.

Betapa tidak, di tengah arus globalisasi pada era milenial saat ini, para santri berhasil diwisuda dengan mengkhatamkan hafalan Alquran 30 juz yang bertepatan dengan acara peringatan Haul Ke-29 KH Ahmad Syadzili Muhdlor di Desa Sumber Pasir, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Minggu (19/1/2020).

Rona bahagia jelas terpancar dari wajah para santri dan para wali santri saat nama putra-putrinya disebut.

Mereka mendapat cendera mata dari Ketua Yayasan Asy-Syadzili, KH Abdul Mujib (Gus Mujib).

Hadir juga dalam acara itu KH Agus Ali Masyhuri dari Ponpes Bumi Shalawat Sidoarjo, KH Masduki dari Jombang, para ulama dan juga para habaib khususnya wilayah Malang Raya.

“Anak adalah sebuah investasi yang sangat menjanjikan di masa depan, bukan sekadar harta dan kekayaan dunia semata. Seorang santri yang ingin menghafal Alquraan, dia harus berusaha keras sebab itu bukan soal bakat, melainkan soal niat dan ketekunan,” kata KH Abdul Mun’im Syadzili, Pengasuh (PPSQ) Asy-Syadzili saat sambutan.

Dalam keseharian, para santri memang memegang prinsip kedisiplinan.

Penggunaan ponsel tidak diperbolehkan demi fokus dalam menghafal.

Para santri bangun sebelum subuh untuk melaksanakan salat tahajud. Setelah salat asar, salat magrib, dan salat isya hingga pukul 21.30 mereka mengulang-ulang dan ber-muraja’ah dalam menghafal Alquran yang didampingi para instruktur.

Metode menghafal tiap santri tidak selalu sama. Ada yang satu ayat diulang-ulang sampai hafal baru melanjutkan ayat yang lain.

Ada yang satu halaman, satu waqaf (tanda berhenti bacaan), satu juz, dan seterusnya. Begitu pun cara mereka untuk menghilangan kejenuhan.

Berbagai kegiatan dilakukan seperti selawatan, banjarian, olahraga, dan sebagainya.

Semua berharap, anak-anak akan menjadi generasi yang tidak hanya cerdas dalam bidang ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi generasi yang Qurani.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan ornag tua untuk anak.

M Agus Susanto
Guru SMP IT Asy-Syadzili, Penulis Buku Rahasia Sederhana Meraih Rahmat Allah
mragussusanto9@gmail.com

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved