Kilas Balik

Pengakuan Saksi Mata Pembantaian 7 Jenderal TNI, Terungkap Strategi PKI Alihkan Perhatian Masyarakat

Berikut Pengakuan Saksi Mata Pembantaian 7 Jenderal TNI, Terungkap Strategi PKI Alihkan Perhatian Masyarakat.

Kolase TribunJakarta.com/Nur Indah Farrah Audina dan Dionisius Arya Bima Suci
Ilustrasi: Pengakuan Saksi Mata Pembantaian 7 Jenderal TNI, Terungkap Strategi PKI Alihkan Perhatian Masyarakat 

"Mereka lari sudah pakai baju biasa. Jadi saat itu suasananya mencekam."

"Di satu sisi banyak orang berlarian depan saya, di sisi lain rumah saya ikut digeledah," jelasnya.

Yasin makin diselimuti ketakutan ketika para RPKAD menemukan banyak senjata disembunyikan di salah satu rumah temannya.

"Saya lihat sendiri di rumah teman saya jadi tempat penyimpanan senjata."

"Seingat saya dia itu kayak ketempatan aja, tapi enggak ngerti itu milik siapa".

"Dulu bajunya tentara juga, kalau kita enggak paham bedanya di mana, ya enggak tahu bedanya PKI sama RPKAD."

"Akhirnya dia ditangkap kan tapi sudah dibebaskan. Orangnya tapi sudah meninggal," jelasnya.

Yasin mengungkapkan kalau beberapa orang sempat terhasut dan bergabung dalam PKI.

Hal ini lantaran ajakan PKI saat itu begitu memikat.

"Dulu tuh orang-orang hidupnya susah. Nah yang kehasut PKI itu karena iming-imingnya kuat."

"Jadi kita dijanjikan hidup enak," katanya.

Kehidupan yang enak dijelaskan Yasin seperti setiap hari disajikan makanan berupa daging.

Tak hanya daging, kebutuhan gizi 4 sehat 5 sempurna secara cuma-cuma ditanggung oleh para pemimpin PKI.

"Kalau iming-imingnya seperti itu, siapa yang enggak mau."

"Meskipun mereka enggak ngerti tapi kan tertarik sama makan yang terjamin," katanya.

Yasin berharap kejadian serupa tak terulang kembali.

Ia menginginkan kehidupan yang damai dan jauh dari kekejaman partai komunis.

Cerita tentang kekejaman PKI juga datang dari seorang polisi bernama Sukitman.

Dalam sebuah video wawancara yang diunggah oleh channel Youtube Subdisjianhubmas Pusjarah TNI, Sukitman menceritakan secara jelas kronologi peristiwa mengerikan itu.

Saat itu 1 Oktober 1965, sekitar pukul 03.00 WIB, Sukitman bersama rekannya sedang berjaga dan patroli malam.

Dengan menggunakan sepeda dan menenteng senjata, Sukitman berpatroli di Seksi Vm Kebayoran Baru (sekarang Kores 704) yang berlokasi di Wisma AURI di Jl. Iskandarsyah, Jakarta, bersama Sutarso yang berpangkat sama, yakni Agen Polisi Dua.

"Waktu itu polisi naik sepeda. Sedangkan untuk melakukan patroli, kadang-kadang kami cukup dengan berjalan kaki saja, karena radius yang harus dikuasai adalah sekitar 200 meter” kata Sukitman dalam wawancara.

Saat itu, Sukitman mendengar seperti suara tembakan yang cukup kencang.

Ia pun berinisiatif untuk menuju sumber suara itu.

Ternyata suara itu berasal dari rumah Jenderal D.I. Panjaitan yang terletak di Jln. Sultan Hasanudin.

Di situ sudah banyak pasukan bergerombol.

Belum sempat tahu apa yang terjadi di situ, tiba-tiba Sukitman dikejutkan oleh teriakan tentara berseragam loreng dan berbaret merah yang berusaha mencegatnya.

"Turun! Lempar senjata dan angkat tangan!"

Sukitman, yang waktu itu baru berusia 22 tahun, kaget dan lemas.

Sukitman segera turun dari sepeda dan melemparkan senjata lalu angkat tangan.

Dalam kondisi ditodong senjata dan tangannya diikat, lalu Sukitman dimasukkan ke dalam mobil.

"Saya didorong dilemparkan ke dalam mobil, tepatnya disamping supir di bawah kabin," ungkapnya.

Selama dibawa beberapa menit perjalanan, Sukitman masih ingat arah jalan mana ia dibawa.

Mobil itu bergerak ke Jalan Wolter Mongisidi hingga ke arah Mampang, setelah itu Sukitman tak ingat lagi.

Hari sudah mulai pagi, dan samar-samar suasana di sekelilingnya agak terlihat.

Sukitman dibawa ke sebuah tempat yang tidak ia kenali

Pada waktu itu, Sukitman selewat mendengar ucapan "Yani wis dipateni (yani sudah dibunuh)"

Tak lama kemudian seorang tentara yang menghampiri Sukitman dan segera menyeretnya ke dalam tenda.

Tentara tersebut segera melapor kepada atasannya, "Pengawal Jenderal Panjaitan ditawan."

Tentara itu menyangka kalau Sukitman adalah pengawal jendral Panjaitan.

Meskipun waktu itu masih remang-remang, di dalam tenda Sukitman sempat mengamati keadaan sekelilingnya.

Sukitman melihat beberapa orang dalam kondisi terikat, lalu didudukkan di kursi.

Sukitman juga melihat ada beberapa lainnya yang tergeletak di bawah dengan kondisi berlumuran darah.

Lalu Sukitman dibawa keluar tenda dan didorong ke arah teras rumah.

Di teras rumah itu, Sukitman melihat ada papan tulis dan bangku-bangku sekolah tertata rapi.

Sukitman bisa melihat dengan jelas sekelompok orang mengerumuni sebuah sumur sambil berteriak, "Ganyang kabir, ganyang kabir!"

Ke dalam sumur itu dimasukkan tubuh manusia yang dibawa entah dari mana, kemudian langsung disusul oleh berondongan peluru.

"Istilah itu kabir maksudnya kapitalis birokrat," terang Sukitman.

Sukitman sempat melihat seorang tawanan dalam keadaan masih hidup dengan pangkat bintang dua di pundaknya, mampir sejenak di tempatnya ditawan.

"Setelah tutup matanya dibuka dan ikatannya dibebaskan, dengan todongan senjata, sandera itu dipaksa untuk menandatangani sesuatu. Tapi kelihatannya ia menolak dan memberontak. Orang itu diikat kembali, matanya ditutup lagi, dan diseret dan langsung dilemparkan ke dalam sumur yang dikelilingi manusia haus darah itu dalam posisi kepala di bawah," tuturnya.

Dengan perasaan takut dan tak karuan, Sukitman menyaksikan para pahlawan revolusi itu diberondong peluru hingga dimasukkan ke dalam sumur.

Sampai ketika orang-orang itu mengangkuti sampah untuk menutupi sumur tempat memasukkan para korbannya.

Dengan cara itu diharapkan perbuatan kejam mereka sulit dilacak.

Di atas sumur itu kemudian ditancapkan pohon pisang.

"Setiap habis memberondongkan pelurunya, jika akan membersihkan senjatanya, para pembunuh yang menamakan dirinya sukarelawan dan sukarelawati itu pasti melewati tempat saya ditawan," tambahnya.

Belakangan ia mengetahui kalau sukarelawan itu adalah pemuda Rakyat dan sukarelawati itu adalah Gerwani.

"Namun mereka bersenjata lengkap melebihi ABRI waktu itu," tuturnya.

Dengan demikian Sukitman bisa melihat dengan jelas siapa-siapa saja yang terlibat peristiwa yang meminta korban nyawa 7 Pahlawan Revolusi.

Ia pun sempat melihat Letkol Untung, yang mengepalai kejadian kelam dalam sejarah militer di Indonesia itu.

Berikut videonya  lengkap penuturan Sukitman yang menjadi saksi sejarah kekejaman G30S/PKI.

Penulis: Putra Dewangga Candra Seta
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved