Bos TPPI Angkat Bicara Kasus Korupsi yang Seret Anak Buahnya dan Bos BP Migas

Bos TPPI, Sugeng Firmanto angkat bicara atas kasus dugaan tindak pidana korupsi dan pencucian uang yang menjerat tiga pejabat di bidang migas.

Bos TPPI Angkat Bicara Kasus Korupsi yang Seret Anak Buahnya dan Bos BP Migas
SURYA.co.id/M Sudarsono
Gaduh di TPPI Atas Kasus Pencucian Uang, Bos Angkat Bicara Hingga Ungkap Masalah Produksi 

SURYA.co.id | TUBAN - Bos TPPI, Sugeng Firmanto, angkat bicara atas kasus tindak pidana korupsi dan pencucian uang yang menjerat tiga pejabat di bidang migas.

Tiga orang ditetapkan sebagai tersangka atas kasus tersebut, namun dua yang telah dijebloskan tahanan yaitu Raden Priyono, selaku kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu (BP) Migas dan Djoko Harsono, selaku deputi BP Migas.

Sedangkan satu masih buron yaitu Honggo Wendratno Direktur Utama (Dirut) PT TPPI, dan juga merupakan pemegang saham PT Tirtamas Majutama serta PT Tuban LPG Indonesia (PT TLI).

Sugeng Firmanto yang menjabat General Manager (GM) PT Trans Pacific Petrochemical Indotama ( TPPI) ini GM mengaku tidak ada yang mempengaruhi proses produksi hingga sekarang atas penetapan tiga tersangka tersebut.

"Tidak berpengaruh pada produksi," kata Sugeng Firmanto kepada wartawan, Senin (3/2/2020).

Dijelaskannya, saat ini kapasitas produk LPG di TPPI masih variatif, menyesuaikan berapa yang mau diolah perusahaan.

Setidaknya, per hari 6-11 ton per jam LPG mampu diproduksi oleh perusahaan negara tersebut.

Dia juga mendukung secara penuh terkait proses hukum yang dijalankan oleh polisi maupun kejaksaan atas kasus korupsi kondensat tersebut.

"Produksi tidak ada masalah, tergantung kita mau produksi berapa," bebernya.

Kasubnit 3 Subdit 3 Dittipideksus Bareskrim Polri, Kompol Subianto mengatakan, secara teknis modus tindak pidana korupsi dan pencucian uang yaitu TPPI ditunjuk oleh BP migas untuk lifting mengambil minyak mentah, tapi TPPI tidak ada kemampuan produksi.

Selama produksi kondensat akhirnya tidak sesuai kemampuan yang berlaku. Lifting selama dua tahun dari 2009-2011 itu menyebabkan negara kerugian kurang lebih Rp 36 triliun.

Kasus TPPI mencuat pada April 2015, lalu setelah dilakukan penyelidikan hingga penyidikan berkas dinyatakan lengkap atau P21 Januari 2018.

Tiga orang dinyatakan tersangka, Raden Priyono dan Djoko Harsono sudah ditahan, kalau Honggo masih buron

"Dua tahun beroperasi membuat negara merugi Rp 36 Triliun. Honggo pada 2016 dideteksi ada Singapura, namun kini sudah menghilang," pungkasnya.

Penulis: M. Sudarsono
Editor: Iksan Fauzi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved