Berita Mojokerto

Sampah Domestik Bisa Kurangi Kebutuhan Bahan Baku Industri yang Ketergantungan Scrap Impor

Anggota Komisi IV DPR mendorong industri untuk mulai meninggalkan pemakaian bahan baku scrap kertas dan plastik impor yang beralih ke sampah domestik

Sampah Domestik Bisa Kurangi Kebutuhan Bahan Baku Industri yang Ketergantungan Scrap Impor
mohammad romadoni/surya
Wakil Ketua Komisi IV DPR, Dedi Mulyadi ketika melakukan kunjungan kerja di sentra pengolahan sisa sampah impor di Desa Bangun, Kecamatan Pungging Kabupaten Mojokerto, Sabtu (1/2/2020). 

SURYA.co.id | MOJOKERTO - Anggota Komisi IV DPR mendorong industri-industri untuk mulai meninggalkan pemakaian bahan baku scrap kertas dan plastik impor yang beralih ke sampah domestik. Mereka optimistis pengelolaan sampah domestik akan bisa mengatasi kebutuhan industri yang menggantungkan bahan baku dari scrap kertas dan plastik impor tersebut.

Wakil Ketua IV DPR, Dedi Mulyadi, mengatakan pihaknya akan melibatkan Kementerian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia (Kemendesa). Dua kementerian tersebut akan berkolaborasi mendukung sistem pengelolaan sampah domestik di setiap desa.

"Nanti Kementerian Desa buat Memorandum of Understanding (MoU) minimal di Jawa bahwa pengelolaan sampah dilakukan sampai tingkat Rukun Tetangga (RT), kemudian sampah-sampah akan dikumpulkan setiap daerah yang nantinya dikirim ke industri-industri yang membutuhkannya," ujar Dedi usai Kunker di Desa Bangun, Kecamatan Pungging Kabupaten Mojokerto, Sabtu (1/2/2020).

Ia mengatakan kebutuhan industri kertas akan bahan baku scrap kertas cukup tinggi yakni mencapai 6 sampai dengan 6,5 Juta ton per tahun.

Sedangkan, pasokan dalam negeri sekarang ini baru bisa mencukupi sekitar 50 persen yang dominan dipenuhi dari impor scrap kertas mencapai 4 sampai 5 juta to ton per tahun.

"Harga scrap kertas dalam negeri di industri  kertas mencapai Rp.2 juta sampai Rp.2,5 Juta per ton, harga scrap import yang impuritiesnya bermasalah 30-50 US per ton, harga scrap kertas import yang bersih senilai 150-200 US per ton," ungkapnya.

Masih kata Dedi, rantai pasokan kertas dalam negeri sangat panjang mulai dari masyarakat atau pemulung, pelapak kecil, pelapak besar, bandar besar, suplier dan baru industri kertas.

Suplier biasanya juga Underbow industri kertas sehingga selain harganya menjadi lebih mahal saat masuk ke industrinya juga susah.

"Ini persoalan dalam negeri semacam Kartel juga industri-industri kertas ini alasannya kualitas scrap dalam negeri kotor padahal kondisi yang lebih kotor dari impor mereka terima," jelasnya.

Ditambahkannya, pihaknya menyampaikan bahwa pengelolaan sampah domestik diperbolehkan.

Fakta di lapangan penanganan sampah belum maksimal di setiap daerah. Misalnya, penanganan persoalan sampah di setiap Kabupaten/ Kota  belum beres apalagi ditambah sampah impor.

"Saya sampaikan kalau terkait sampah domestik bisa dikelola. Masyarakat disini hanya mengganti saja dari sampah impor ke sampah domestik, kan yang gak boleh itu sampah impor kalau sampah domestik boleh," tandasnya.

Penulis: Mohammad Romadoni
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved