Berita Surabaya

Cara Mahasiswa Flores di Surabaya Bantu Perbaiki Perekonomian Warga Kampung Halaman

Mereka yang tergabung dengan Komunitas ALIT (Arek Lintang) membuka Bursa Sayur Mayur Hasil Bumi Organik dari Flores di Surabaya, Rabu (29/1/2020).

Cara Mahasiswa Flores di Surabaya Bantu Perbaiki Perekonomian Warga Kampung Halaman
surya.co.id/zainal arif
Pelanggan membeli produk organik dari Flores di bursa sayur mayur Jl Ketintang Madya No. 73 Kota Surabaya, Rabu (29/1/2020). 

SURYA.co.id |SURABAYA - Sejumlah mahasiswa Nusa Tenggara Timur (NTT) memanfaatkan hasil bumi kampung halaman untuk membantu perbaikian perekonomian warga.

Mereka yang tergabung dengan Komunitas ALIT (Arek Lintang) membuka Bursa Sayur Mayur Hasil Bumi Organik dari Flores di Surabaya, Rabu (29/1/2020).

Mereka terdiri dari, Aristo Yosef Aristo (Mahasiswa Universitas Nusa Nipa Maumere), Yustina Yuniarti (Universitas Terbuka Maumere), dan Elya Nitbani (Mahasiswa Universitas Nusa Nipa Maumere) bersama 4 mahasiswa dari Universitas Airlangga dengan gigih ingin mensurvei pasar Kota Surabaya dengan menjual hasil kekayaan alam yang organik dari Maumere.

Selain itu bazar ini juga di support dengan beberapa produk dari Bromo yang juga tergabung dalam komunitas Alit (Arek Lintang) seperti kopi.

"Bazar ini bertujuan memperbaiki ekonomi lewat produk organik yang kurang dihargai di Maumere padahal bisa terjual mahal di Surabaya,"kata Yuliati Umrah Direktur Alit Indonesia, Rabu (29/1/2020).

"Memanfaatkan hasil alam yang ada di halaman rumah penduduk desa dan kami mendapat tambahan produk dari Bromo," imbuhnya.

Produk organik itu seperti, Pete, Lemon, Alpukat, Pisang, Minyak Kelapa, dan masih banyak lainnya.

Pasar Kota Surabaya yang sadar akan kehidupan sehat, merupakan alasan kenapa mereka memilih kota ini.

Mereka datang dengan menjual produk organik yang tentunya dengan harga yang sangat terjangkau, mirip dengan produk non organik yang dijual di Kota Surabaya.

"Kami menjual berbagai produk, salah satunya pete dan nangka ini yang kami dijual dengan harga 5000, alpukat yang dijual 30 ribu per-kilo, dan Ikan asin kerapu 15 ribu per-ons," kata Aristo Mahasiswa Semester 7 Universitas Nusa Nipa Maumere.

Dalam waktu 4 jam mereka sudah melayani belasan pelanggan, hingga memperoleh penghasilan sekitar 500 ribu.

Masyarakat Surabaya merespon positif dengan adanya produk organik yang dijual dengan harga murah.

"Saya sangat senang dengan adanya produk organik ini, karena saya sendiri ingin sehat dengan tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung pestisida, dan harganya terbilang murah untuk produk organik, terutama ini produk flores jadi ada nilai lebih dari rasa," kata lina pembeli dari Surabaya.

Penulis: Zainal Arif
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved