Berita Gresik

Penjelasan Dindik Gresik terkait Dugaan Penghapusan Insentif Guru Honorer Non K2

Komisi IV DPRD Gresik mengelar rapat dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik di ruang Komisi IV, Senin (27/1/2020).

Penjelasan Dindik Gresik terkait Dugaan Penghapusan Insentif Guru Honorer Non K2
surya.co.id/willy abraham
Komisi IV DPRD Gresik menggelar rapat dengan Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Gresik terkait dugaan penghapusan insentif guru honorer non K2 di ruang Komisi IV, Senin (27/1/2020). 

SURYA.co.id | GRESIK - Komisi IV DPRD Gresik memanggil Dinas Pendidikan (Dispendik) terkait pencoretan insentif guru non K2 dari Bantuan Operasional Sekolah.

Dispendik buru-buru membantah dan memastikan insentif BOS tetap ada.

Staf Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dispendik Gresik, Purwanto menegaskan dana BOS berasal dari APBN masih ada. Tidak ada pencoretan sama sekali.

"Tidak ada pencoretan insentif untuk guru non K2 yang ada di BOS. Saat ini masih ada," tegas Purwanto, Senin (27/1/2020).

Struktur honor yang diberikan kepada guru non K2 sebelumnya ada dua sumber.

Yakni, sumber dari BOS yang berasal dari APBD Gresik dan sumber dari BOS yang berasal dari APBN.

BOS dari APBD Gresik tunjangannya naik, yang dulunya Rp 500 ribu menjadi Rp 1 juta.

Sedangkan yang dari BOS APBN tetap ada di sekolah. Namun besarannya berbeda-beda karena melihat kemampuan sekolah. Ada yang Rp 250 hingga Rp 450 ribu.

"Guru honorer non K2 tetap mendapatkan dua sumber. Yang BOS APBD dan BOS APBN jadi perbulan bisa Rp 1,450 juta," tegasnya.

Yang menjadi persoalan, guru honorer non K2 mengira bahwa tunjangan dari BOS APBN ditarik. Padahal yang ditarik adalah BOS APBD Gresik. Dari 2019 sebesar Rp 500 ribu naik menjadi Rp 1 juta.

Anggota Komisi IV DPRD Gresik Saifuddin mengatakan untuk permasalahan honor sudah beres. Hanya saja penyaluran tunjangan BOS APBN harus dilihat lagi apakah benar-benar sudah diterima apa belum.

"Ini harus tetap dipastikan dilapangan. Nanti gara-gara terima tunjangan Rp 1 juta kemudian tunjangan BOS APBN hilang," tegas Politisi Gerindra ini.

Ketua Komisi IV Muhammad menegaskan agar tidak terulang kembali pihaknya meminta Dispendik untuk membuat surat edaran kepada seluruh kepala sekolah.

"Biar tidak ada kesalahan penafsiran lagi. Selama ini karena tidak ada edaran jadinya salah paham. Sekarang setelah rapat kita ikut tanda tangan," pungkasnya.


Penulis: Willy Abraham
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved