Berita Kediri

Petani Kediri Berantas Hama Tikus Pakai Petasan, Ini Alasannya

Petani di Kabupaten Kediri memanfaatkan petasan untuk memberantas hama tikus yang kembali merajalela.

Petani Kediri Berantas Hama Tikus Pakai Petasan, Ini Alasannya
didik mashudi/surya
Petani memperlihatkan petasan anti tikus saat memberantas tikus di Desa Paron, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Kamis (23/1/2020). 

SURYA.co.id | KEDIRI - Petani di Kabupaten Kediri memanfaatkan petasan untuk memberantas hama tikus yang kembali merajalela. Hama tikus ini banyak menyerang tanaman padi, jagung dan lombok di Desa Paron, Kecamatan Ngasem, Kamis (23/1/2020).

Pemberantasan tikus ini melibatkan puluhan orang petani pemilik lahan yang tanamannya diserang hama tikus. Sebelumnya sarang lubang tikus telah diberi penanda berupa potongan kayu dan bambu.

Selanjutnya petasan anti tikus disulut sumbunya layaknya menyulut petasan kemudian dimasukkan ke dalam sarang tikus. Petasan akan meledak yang mengeluarkan asap berbau belerang yang cukup menyengat.

Setelah petasan meledak mengeluarkan asap, selanjutnya lubang sarang tikus ditutup dengan tanah. Tikus di dalam lubang dipastikan bakal mati setelah sarangnya diledakkan dengan petasan anti tikus.

Petasan yang dipakai memberantas tikus ini dikenal petani dengan sebutan Tiran yang diproduksi perusahaan di Sulawesi Selatan.

"Dengan petasan anti tikus ini lebih efekfif, karena tikus akan mati di dalam sarang," ungkap Warno, salah satu petani

Selain menggunakan petasan, pemberantasan sarang tikus juga dilakukan pengasapan atau penyemprotan dengan asap belerang.

Alat pengasapan ini hasil modifikasi yang dilakukan Udin, salah satu petani.

Menurut Yayuk Anisa, tenaga penyuluh pertanian Kecamatan Ngasem, penggunaan petasan asap lebih ramah lingkungan.

Selain itu kelompok petani juga memiliki predator burung hantu atau tito alba.

"Kalau diberi racun tikus kami khawatir tikus yang mati akibat diracun dimakan burung hantu sehingga membahayakan predatornya," jelasnya.

Pemberantan dengan petasan anti tikus, hasilnya tidak bisa langsung terlihat.

"Karena tikus mati terjebak di dalam lubang," ujarnya.

Sementara Camat Ngasem Ir Ary Budianto menyebutkan, pemberantasan tikus dengan pengasapan lebih aman, sehingga tikus dapat ditekan tidak semakin berkembang biak.

"Tikus telah banyak merusak tanaman di sawah sehingga petani berupaya untuk memberantasnya," tandas Ary.

Penulis: Didik Mashudi
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved