Berita Madiun
Lahan Pertanian Seluas 100 Hektar di Madiun Rusak Diserang Hama Tikus
Hama tikus menyerang tanaman padi seluas 100 hektare milik petani di Kabupaten Madiun. Akibatnya, tanaman padi yang baru ditanam petani, rusak
Penulis: Rahadian Bagus | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id|MADIUN - Hama tikus menyerang tanaman padi seluas 100 hektare milik petani di Kabupaten Madiun. Akibatnya, tanaman padi yang baru ditanam petani, rusak dan mati.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun, Sumanto, mengatakan pada awal musim tanam 2020 ini, ada sekitar 100 hektare lahan pertanian yang rusak akibat diserang hama tikus.
Sumanto mengatakan, para petani kesulitan mengusir dan memberantas hama tikus ini karena jumlah tikus yang menyerang lahan terlalu banyak.
"Hama tikus ini mewabah di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Pilangkenceng ada sekitar 54 hektare, Kecamatan Balerejo sekitar 30 hektare, dan Kecamatan Wonoasri sekitar 16 hektare lahan yang diserang tikus," katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (26/1/2020) siang.
Sumanto menuturkan, populasi hama tikus di wilayah Kabupaten Madiun terus bertambah. Selama ini, hama tikus bekembang biak dan membentuk ekosistem di gundukan tanah di pinggir Jalan Tol Madiun.
"Di gundukan jalan tol ini menjadi tempat berkembang biak para tikus. Mereka menciptakan ekosistem dan menjadi tempat untuk berkembang biak," jelasnya.
Lokasi jalan tol ini, kata Sumanto, menjadi tempat yang aman bagi para tikus untuk berkembang biak, karena lokasi tersebut sulit dijangkau. Petani kesulitan masuk ke kawasan jalan tol untuk memberantas sarang tikus.
Sebab, petani tidak bisa masuk ke area tol, karena harus izin. Selain itu, gundukan yang dijadikan sarang tikus tidak boleh sembarangan digali.
Padahal itu menjadi tempat aman bagi tikus untuk berkembang biak. Selain itu,
dalam setahun sepasang tikus biasanya bisa beranak hingga 2.200 ekor.
"Bayangkan kalau ada ribuan pasang tikus yang berkembang biak, tentu jumlahnya akan berkali-kali lipat," terangnya.
Akibat serangan hama tikus ini, bibit yang baru ditanam para petani rusak sebelum tumbuh. Serangan hama tikus pada masa tanam pertama musim penghujan, menyasar bibit padi yang baru ditanam.
Akibatnya, petani terpaksa mengulang menanam padi. Hal ini berbeda dengan serangan hama tikus pada tahun sebelumnya, karena tikus biasanya menyerang padi yang berusia sekitar 45 hari.
"Bedanya, sekarang serangan hama tikus justru di awal penanamam bibit. Kalau dahulu tikus menyerang tanaman padi yang sudah berisi, sekarang tidak, baru bibit sudah dirusak," imbuhnya.
Untuk memberantas hama tikus, para petani menggunakan cara manual, yakni gropyokan tikus. Meski tidak dapat menghilangkan seluruh hama tikus, namun metode ini dinilai efektif untuk mengurangi jumlah populasi.
"Pemerintah juga memberi bantuan berupa racun hama tikus berupa rodentisida," tambahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/serangan-hama-tikus-di-madiun-merusak-100-hektar-lahan.jpg)