Citizen Reporter

Cegah Stunting dengan Pemberian ASI Ekslusif dari Usia 0 Hingga 6 Bulan

Rufa memaparkan, makanan terbaik bagi bayi usia 0-6 bulan adalah ASI. Menurutnya, ASI mengandung zat gizi lengkap yang mudah diserap

Citizen Reporter/Nikmatus Sholikhah
Cegah Stunting dengan Pemberian ASI Ekslusif dari Usia 0 Hingga 6 Bulan 

SURYA.co.id - Masalah gizi kronis yang dapat mengakibatkan gagal tumbuh atau kondisi anak lebih pendek dari anak seusianya (stunting) menjadi salah satu masalah kesehatan yang krusial di ndonesia.

Kekurangan gizi itu dapat terjadi sejak janin berada di dalam kandungan sampai awal kehidupan 1.000 hari pertama kelahiran.

Bertolak dari permasalahan itu, sembilan mahasiswa peserta KKN Belajar Bersama Masyarakat (KKN-BBM) ke-61 Universitas Airlangga (Unair) di Desa Sumberkencono, Wongsorejo, Banyuwangi menyosialisasikan ASI eksklusif dan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) di Posyandu Sukun, Desa Sumberkencono.

Kegiatan yang dilaksanakan Kamis (16/1/2020) itu diikuti 20 ibu anggota posyandu setempat.

Rufaidah Fikriya, mahasiswa Keperawatan Unair sebagai pemateri menjelaskan mengenai salah satu cara untuk mencegah gizi buruk yang berisiko stunting dapat dilakukan dengan pemenuhan gizi cukup sejak bayi dalam kandungan hingga masa pertumbuhan. Itu terutama pada usia emas antara 6 bulan sampai usia 2 tahun.

Rufa memaparkan, makanan terbaik bagi bayi usia 0-6 bulan adalah ASI. Menurutnya, ASI mengandung zat gizi lengkap yang mudah diserap secara sempurna dan sama sekali tidak mengganggu fungsi ginjal bayi.

“Pemberian makanan atau minuman selain ASI sebelum 6 bulan dapat mengurangi produksi ASI, meningkatkan risiko infeksi, alergi, dan mengurangi ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi,” terangnya.

Lebih lanjut, Rufa juga menjelaskan balita usia 6 bulan ke atas membutuhkan asupan tambahan gizi selain ASI atau yang biasa disebut MP-ASI.

Pemberian MP-ASI dilakukan untuk pemenuhan nutrisi seimbang dan membantu proses pertumbuhan balita.

Dalam kegiatan itu, mahasiswa KKN-BBM Unair tidak hanya melakukan sosialisasi, namun mereka juga ikut turun tangan membantu menimbang berat badan balita. Itu dilakukan untuk memastikan balita di Desa Sumberkencono memiliki berat badan dan tinggi yang sesuai dengan usianya.

Fitriyah, Kader Posyandu Sukun, mengaku senang dengan sosialisasi semacam itu.

Dia menuturkan, di Posyandu Sukun tidak pernah ada kegiatan sosialisasi sehingga itu dapat menambah pengetahuan ibu balita. Yang awalnya menyepelekan ASI eksklusif dan MP-ASI sekarang mampu memahami betapa pentingnya kedua hal itu untuk pemenuhan gizi balita.

“Alhamdulillah berkat sosialisasi ini, ibu-ibu balita yang kadang-kadang tidak datang menimbang menjadi kompak untuk datang,” pungkasnya.

Nikmatus Sholikhah
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga, Kontributor Unair News
Nikmatusholihah99@gmail.com

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved