Berita Ekonomi Bisnis

7 Kilang Minyak dan Gas Ditarget Rampung 2027, Pertamina dan Barata Gelar Kick Off Percepatan

Anggota Tim Percepatan Pembangunan Kilang Minyak PT Pertamina (Persero), langsung bergerak cepat, paska terbitnya Surat Keputusan Menteri BUMN.

7 Kilang Minyak dan Gas Ditarget Rampung 2027, Pertamina dan Barata Gelar Kick Off Percepatan
surya.co.id/willy abraham
Dirut Pertamina, Nicke Widyawati melakukan kick off kerjasama dan percepatan pembangunan kilang di PT Barata Indonesia (Persero), Kabupaten Gresik, Senin (20/1/2020). 

SURYA.co.id | GRESIK - Anggota Tim Percepatan Pembangunan Kilang Minyak PT Pertamina (Persero), langsung bergerak cepat, paska terbitnya Surat Keputusan Menteri BUMN.

Kick off Program Percepatan Pembangunan Kilang Minyak PT Pertamina ( Persero) dilakukan di Workshop Heavy Machining Center milik PT Barata Indonesia (Persero), Kabupaten Gresik, Senin (20/1/2020).

Beberapa pejabat Kementerian, diantaranya Kementerian Perindustrian, Kementerian ESDM, Kementerian Perdagangan, serta Kepala BPPT dan beberpa pejabat dari perusahaan yang terlibat dalam proyek tersebut.

Direksi dari perusahaan BUMN anggota tim Percepatan Pembangunan Kilang Minyak tersebut seperti, PT Pertamina (Persero), PT Barata Indonesia ( Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, PT Rekayasa Industri, serta PT Tuban Petrochemical Industries (anak perusahaan Pertamina).

Kickoff tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen bersama dari semua pihak terkait pekerjaan Percepatan Pembangunan Kilang Minyak Pertamina.

Rencananya ada sekitar lima (5) Kilang Minyak serta dua (2) Kilang Gas, yang pengerjaannya diprediksi selesai pada 2027.

Penugasan tersebut juga dilatarbelakangi oleh upaya pemerintah untuk meningkatkan persentase TKDN dalam Proyek Strategis Nasional serta untuk menekan jumlah impor migas. Program pembangunan kilang minyak akan menggunakan komponen dalam negeri dalam jumlah lebih besar lagi.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati menegaskan program TKDN jasa ataupun barang akan ditingkatkan secara bertahap. Dari 35 persen menjadi 40 persen hingga 50 persen.

"Kita lihat project itu 60 sampai 70 persen di pengadaan dan equipment. Nah, Barata, Krakatau Steel, BBI dan industri manufaktur lainnya harus fokus disana," kata dia.

Direktur Utama PT Barata Indonesia (Persero), Fajar Harry Sampurno menambahkan, industri manufaktur memang harus didorong.

"Seperti halnya untuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas dalam mendukung pembangunan strategis seperti kilang dan industri berat lainnya sehingga dapat menciptakan efek multiplier dalam pertumbuhan ekonomi nasional, “ tambahnya.

Ditunjuknya Barata Indonesia sebagai anggota tim percepatan pembangunan kilang minyak , karena Barata dinilai memiliki pengalaman yang panjang di bidang industri manufaktur, termasuk industri migas. Produk – produk yang dihasilkan oleh perusahaan juga telah mampu diekspor ke beberapa negara di luar negeri.

Hal itu dibuktikan dengan nilai ekspor perusahaan yang naik tiap tahunnya. Tahun 2019 Barata Indonesia membukukan nilai ekspor sebesar 31 Juta USD. Nilai itu meningkat signifikan jika dibandingkan dengan nilai ekspor pada 2018 yang mencapai Rp. 16 Juta USD.

Penulis: Willy Abraham
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved