Berita Surabaya

1 Dekade Gus Dur Wafat, Gerakan Gusdurian Suroboyo Kenalkan Sosok Gus Dur ke Generasi Muda

Gagasan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) masih jadi acuan bagi para pengikutnya, terutama generasi muda telah 10 tahun wafat

1 Dekade Gus Dur Wafat, Gerakan Gusdurian Suroboyo Kenalkan Sosok Gus Dur ke Generasi Muda
zainal arif/surya
Suasana Kegiatan dari Gerakan GUSDURian (gerdu) Suroboyo bertajuk 'Kebudayaan Melestarikan Kemanusiaan' di Gedung Balai Pemuda Jumat (17/1/2020). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Mantan Presiden keempat Indonesia KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah berpulang pada 30 Desember 2009 silam. Kendati demikian, gagasan dan pemikirannya sampai saat ini masih terus menjadi acuan bagi para pengikutnya, terutama generasi muda.

Kebanyakan masyarakat masih belum mengetahui sosok Gus Dur sebagai seorang budayawan karena masyarakat Indonesia kebanyakan mengenal Gus Dur hanya sebagai seorang presiden dan seorang kiai NU.

Haul Gus Dur kali ini mencoba memperkenalkan sosok Gus Dur sebagai seorang budayawan lewat Gerakan GUSDURian (gerdu) Suroboyo bertajuk 'Kebudayaan Melestarikan Kemanusiaan' di Gedung Balai Pemuda, Jalan Gubernur Suryo Nomor 15, Embong Kaliasin, Genteng Kota Surabaya, Jum'at (17/1/2020).

Koordinator Gerakan Gurdurian Surabaya, Yuska Harimurti, menjelaskan tema yang diangkat di Haul Gus Dur ini diambil dari gagasan dan pemikiran Gus Dur yaitu Kebudayaan Melestarikan Kemanusiaan.

Acara kali ini diisi dengan Nobar & Talkshow Film 'Atas Nama Percaya', Musikalilasi Puisi, dan Konser Kebudayaan.

"Haul Gus Dur semacam ini juga dilaksanakan di beberapa daerah di Indonesia bahkan luar negeri, mulai dari Desember hingga awal bulan Februari, Haul tersebut diikuti oleh KH. Zamawi Imron, Hakim Jayli, Kalis Mardiasih, Kiai Mohammad Faizi, Ahmad Zainul Hamdi dan Ki Wolak Walik," kata Yuska.

Ratusan warga antusias menghadiri acara tersebut, banyak dari kalangan milenial ingin mengenal sosok Gus Dur yang sudah berjasa dalam membela kaum petani, meredam konflik Papua, membela sejumlah artis yang perkusi, mendorong terbentuknya lembaga anti korupsi, dan mendorong gerakan sipil.

"Acara ini sebagai pengingat dan media edukasi bagi generasi muda siapa saja apa pun latar belakangnya, bahwa Indonesia mempunyai pemikiran besar melalui orang-orang besar salah satunya ialah Gus Dur, saya belajar betapa pentingnya menjaga keberagaman dan toleransi dari sosok Gus Dur," tandas Sujoko Efferin warga keturunan tionghoa dari Surabaya.

Penulis: Zainal Arif
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved