Berita Mojokerto

Tak Ada Sertifikat, Perpustakaan SDN 1 Prajuritkulon yang Roboh 5 Tahun Tak Dapat Dana Alokasi

Bangunan perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Prajuritkulon terbengkalai selama lima tahun karena tak ada sertifikatnya

surabaya.tribunnews.com/mohammad romadoni
Kondisi bangunan perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Prajuritkulon terbengkalai selama lima tahun belum tersentuh dana alokasi perbaikan dari pemerintah pusat 

SURYA.co.id | MOJOKERTO - Bangunan perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Prajuritkulon terbengkalai selama lima tahun belum tersentuh alokasi dana perbaikan dari pemerintah pusat.

Perbaikan gedung perpustakaan di sekolah ini tidak bisa mendapat dana alokasi perbaikan
lantaran tidak ada sertifikat kepemilikan.

Kepala Sekolah SDN 1 Prajuritkulon, Pariyono menjelaskan, gedung perpustakaan luas sekitar 5 meter x 8 meter ini roboh terkena angin kencang pada pertengahan Oktober 2014 silam. Tidak ada aktivitas di ruangan perpustakaan lantaran terjadinya pada sore sekitar pukul 16.30 WIB.

"Karena tidak ada perpustakaan, sementara alternatifnya kami menggunakan pojok baca yang ditempatkan di masing-masing kelas. Sekarang ada 186 siswa di sekolahan ini," ungkapnya.

Ia mengatakan, sekolah sudah mengusulkan proposal perbaikan gedung perpustakaan sebanyak empat kali, terakhir pada tahun 2016. Kepengurusan sertifikat tanah sudah diusulkan yang berwenang mengerjakannya yakni dari Dinas Pendidikan Kota Mojokerto. Pihak sekolah membantu sebatas memberi kelengkapan berkas yang dibutuhkan.

"Tetapi karena terkendala sertifikat semuanya di kawasan sekolahan jadi tidak bisa mendapat bantuan," ujarnya.

Menurut dia, pihak Dindik Kota Mojokerto tidak bisa mencairkan dana alokasi perbaikan jika tidak ada sertifikat sekolah.

"Dari dinas jawabannya cuma satu karena tidak ada sertifikat karena dananya kalau bukan aset kan bisa bermasalah kedepannya," jelasnya.

Ditambahkannya, tidak adanya perpustakaan di sekolahan ini berdampak besar bagi seluruh siswa. Namun dewan guru secara kreatif mengatasi permasalahan tersebut dengan membuat pojok baca di setiap kelas yang bukunya diganti setiap satu pekan sekali.

"Karena keterbatasan tempat ya terpaksa meletakkan rak buku di lorong bangunan menuju ke musala sekolah," terangnya.

Halaman
12
Penulis: Mohammad Romadoni
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved