Berita Pamekasan Madura

Penyebab Pekerja Seni dan Pemilik Kafe di Pamekasan Madura Unjuk Rasa

Sejumlah artis lokal, musisi, pemilik band, orkes dangdut, event organizer (EO) dan pengelola kafe di Pamekasan, unjuk rasa ke DPRD Pamekasan.

Penyebab Pekerja Seni dan Pemilik Kafe di Pamekasan Madura Unjuk Rasa
surya/muchsin
Beberapa penyanyi panggung di Pamekasan, saat unjuk rasa membentangkan poster di depan panggung musik di depan kantor DPRD Pamekasan, Kamis (16/12020). 

SURYA.co.id | PAMEKASAN – Sejumlah artis lokal, musisi, pemilik band, orkes dangdut, event organizer (EO) dan pengelola kafe di Pamekasan, unjuk rasa ke DPRD Pamekasan, Kamis (16/12020).

Mereka memprotes sulitnya mendapatkan izin pentas hiburan di Pamekasan, dari Pemkab dan Polres Pamekasan.

Dalam aksinya, pengunjuk rasa yang sebagian wanita muda di bawah usia 30 tahun itu, beda dengan unjuk rasa yang selama ini terjadi di Pamekasan.

Mereka membawa peralatan musik daul, juga band seperti gitar, organ, drumer, lengkap dengan soun sistem dan mendirikan panggung musik di depan kantor DPRD Pamekasan lalu mereka bernyanyi bergantian, sambil orasi.

Mereka membentangkan beberapa poster, di antaranya bertuliskan, pemerintah ojektif.

Melaksanakan tupoksi tanpa intervensi pihak manapun. Lebih baik menyanyi di atas panggung, dari pada di dalam ruangan. Lebih terkutuk, biadab mereka yang menjegal kami mencari nafkah.

Selain, pekerja seni di Pamekasan, di antara pengunjuk rasa terlihat Sekretaris Federasi Artis Indonesia (FAI) DPD Jawa Timur, Iyus Reptil, ikut orasi mempesoalkan nasib pekerja seni di Pamekasan yang dua tahun ini, tidak bisa berkreasi, lantaran dipersulit dan dijegal.

Dalam tujuh butir tuntutannya itu, di antaranya mendesak Bupati Pamekasan memperjelas Perda Hiburan, tanpa itervensi pihak manapun.

Meminta bupati dan DPRD dalam merevisi dan penetapan Perda Hiburan. membentuk tim dan melibatkan unsur pelaku seni dalam merevisi dan pentetapan Perda Hiburan secara umum dan musik secara khusus.

Kemudian, mendesak bupati dan DPRD mensosialisasikan seni sebagai satu cara memerangi radikalisme, sehingga tidak ada lagi diskriminasi terhadap seni dan pelaku seni di Pamekasan.

Halaman
123
Penulis: Muchsin
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved