Kilas Balik

Jenderal Kesayangan Soeharto Terseret Kasus Peristiwa Berdarah Tanjung Priok, Puluhan Nyawa Melayang

Kasus peristiwa berdarah Tanjung Priok pada 12 September 1984 menyeret nama seorang jenderal kesayangan Soeharto, Benny Moerdani

Kolase Cover buku Sintong Panjaitan dan Wikipedia
Jenderal Kesayangan Soeharto Terseret Kasus Peristiwa Berdarah Tanjung Priok, Puluhan Nyawa Melayang 

Luhut mengungkap jatuhnya kekuasaan Benny Moerdani di institusi ABRI setelah hubungannya dengan Soeharto menjadi renggang.

Dilansir dari buku 'Benny Moerdani Yang Belum Terungkap' dan 'Benny Moerdani Profil Prajurit Negarawan' karya Julius Pour, Soeharto marah setelah ia mendapat teguran 'maut' dari Benny Moerdani

Benny Moerdani - Soeharto
Benny Moerdani - Soeharto (Kolase surya.co.id)

Jenderal TNI Benny Moerdani menegur Soeharto karena sejumlah menteri merasa risau dengan anak-anak Soeharto yang sudah tumbuh dewasa dan mulai berbinis tapi dengan memanfaatkan kekuasaan bapaknya.

Bisnis anak-anak Soeharto bahkan merambah ke soal pembelian alutsista yang seharusnya ditangani pemerintah dan ABRI/TNI bukan oleh warga sipil.

Ketika ada kesempatan bermain biliar dengan Soeharto, Benny Moerdani yang saat itu menjabat sebagai Panglima ABRI memberanikan diri ‘menegur’ Pak Harto.

Ia mengingatkan soal bisnis anak-anak Soeharto yang sudah merambah ke mana-mana dan terkesan memonopoli.

Soeharto ternyata tidak terima oleh teguran Benny yang dianggap sangat kurang ajar dan setelah itu hubungan mereka berdua memburuk.

Luhut Panjaitan yang pernah menjadi golden boys atau anak emas Benny Moerdani di lingkungan ABRI, memberanikan diri menanyakan kabar “panas” itu kepada Benny.

“Saya datangi kantor beliau, dan menanyakan kepada Pak Benny, rumor yang beredar di luar bahwa beliau sudah “jauh” dari Pak Harto,” tulis Luhut dikutip dari laman Facebooknya, Senin (22/7/2019).

Kepada Luhut, Benny mengakui insiden tersebut dan kondisinya setelah kemarahan Soeharto.

“Benar itu Luhut..!” kata Benny terus terang kepada Luhut.

Benny Moerdani menjelaskan bahwa Presiden Soeharto marah kepadanya, ketika dengan cara halus mencoba mengingatkan bisnis yang dijalankan oleh putra-putrinya yang sudah kelewat batas.

“Pak Harto lalu tiba-tiba meletakkan stik biliar dan masuk kamar. Sejak itu, Benny Moerdani tidak pernah dekat dengan Presidennya,” kata Luhut.

Meski begitu, Luhut juga mengingat ucapan Benny saat itu soal loyalitas terhadap Soeharto yang tak pernah berubah.

“Tetapi asal kamu tahu ya Luhut. Apapun sikap beliau, saya tidak pernah kehilangan kesetiaan saya kepadanya…!” ucap Benny kepada Luhut.

Penulis: Putra Dewangga Candra Seta
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved