Berita Jombang

Di Desa Pojokkulon Jombang, Satu Ekor Hama Tikus Dihargai Seribu Rupiah

Di desa tersebut, tikus dihargai Rp 1000 per ekornya. Warga pun ramai-ramai memburu binatang pengerat itu

Di Desa Pojokkulon Jombang, Satu Ekor Hama Tikus Dihargai Seribu Rupiah
surabaya.tribunnews.com/sutono
Foto dok - Petani di Desa Plemahan Sumobito Jombang, melakukan pembasmian tikus dengan teknik pengemposan ke lubang hewan pengerat tersebut. 

SURYA.co.id, JOMBANG - Tikus yang menjadi hama bagi petani menjadi buruan di Kabupaten Jombang. Antara lain di Dusun Menjangan Kuning, Desa Pojoklulon, Kecamatan Kesamben.

Di desa tersebut, tikus dihargai Rp 1000 per ekornya. Warga pun ramai-ramai memburu binatang pengerat itu.

Gerakan beli tikus ini dilakukan untuk menggerakkan warga dan petani agar membasmi tikus lebih banyak lagi.

Ini diberikan bagi warga atau petani yang bisa menangkap dan mengumpulkan tikus di sawah dalam keadaan mati atau masih hidup.

Imbalan ini berasal dari kelompok tani di desa setempat yang telah mengumpulkan uang patungan sebesar Rp 200 ribu per hektare.

Sekretaris Kelompok Tani Dusun Menjangan Kuning, Dendi Seger Muzaki mengatakan, upaya ini sengaja dilakukan karena serangan hama tikus ini sudah sangat sulit dikendalikan.

Sejak satu bulan terakhir, petani di desanya terus beramai-ramai membasmi hama tikus ini dengan cara manual alias gropyokan.

Selain menggunakan pentungan, petani juga memakai senapan angin untuk menangkap dan melumpuhkan tikus-tikus tersebut.

Petani pun lebih bersemangat menangkap hama pengerat ini. Bahkan kata Dendi, ada satu orang yang bisa mendapatkan tangkapan hingga 300 ekor dalam sehari.

"Kami patungan Rp 20 ribu per seratus ekor. Terkumpul Rp 20 juta. Kadang uang itu habis dalam 10 hari, karena sehari kami kadang keluar uang Rp 2 juta untuk biaya gropyokan ini. Bayangkan berapa ekor kalau satu ekornya senilai seribu rupiah. Ada ribuan," kata Dendi Seger kepada surya.co.id, Rabu (15/1/2020).

Dendi menjelaskan, tikus tersebut menyerang pembenihan padi atau tanaman padi yang baru saja ditanam di desa tersebut. Sehingga, benih atau tanaman padi itu rusak.

Sejauh ini, dia dan para petani lainya sudah berupaya membasmi serangan hama tikus ini dengan memberi racun. Hanya saja, cara ini tak cukup efektif, justru tikus semakin merajalela.

Sebelumnya, beberapa waktu lalu, warga di dua desa yakni Desa Sentul Kecamatan Tembelang dan Kedungpapar Kecamatan Sumobito juga melakukan gropyokan di sawah setempat.

Ribuan ekor tikus berhasil ditangkap dan dipukul warga dengan pentungan.

"Harapan kami Pemkab Jombang turut bantu petani untuk mengatasi serangan hama tikus ini. Kalau tidak, jelas kami gagal panen tahun ini," pungkasnya.

Penulis: Sutono
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved