Breaking News:

Sikap Hakim Jamaluddin Bikin Zuraida Hanum Pilih Habisi Sang Suami, Berikut Update 4 Fakta Terbaru

Sikap Hakim Jamaluddin Bikin Zuraida Hanum Tega Menghabisi Sang Suami, Berikut Update 4 Fakta Terbarunya

Penulis: Putra Dewangga Candra Seta | Editor: Adrianus Adhi
Kolase KOMPAS.COM/DEWANTORO
Sikap Hakim Jamaluddin Bikin Zuraida Hanum Pilih Habisi Sang Suami, Berikut Update 4 Fakta Terbaru 

"Iya kakak serius. Memang rencana kami mau nikah, kakak enggak main-main. Selama ini kakak enggak tahan, udah lama kakak, udah cukup sakit hati lah," ujar Zuraida.

Tanggapan Psikolog

Sebelumnya, pengakuan Zuraida Hanum otaki pembunuhan hakim Jamaludin dianggap tidak sesuai oleh pakar psikologi. 

Zuraida mengaku nekat menghabisi suaminya, hakim Jamaludin karena khilaf atau gelap mata.

Pengakuan Zuraida ini diucapkan di depan Kenny Akbari Jamal, anak sulung Jamaludin dari istri pertama. 

Awalnya, Kenny mengaku tidak menyangka ibu tirinya tega menyewa dua pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa ayahnya.

"Kalau dari aku pribadi sih, nggak nyangka sih," ujar Kenny berbincang dengan Tribunmedan.com.

Pasalnya, sejauh amatannya saat dia berada di rumah, Kenny tidak pernah melihat ada pertengkaran hebat antara Jamaluddin dengan istrinya.

"Kalau ada aku di rumah pertengkaran yang hebat-hebat itu nggak ada," ujar Kenny.

Dia semakin merasa bingung atas keikutsertaan ibundanya dalam pembunuhan Jamaluddin karena secara finansial tercukupi.

"Makanya aku bingung, secara finansial cukup. Kok bisa terpikirkan sama bunda melakukan hal ini, gitu," tambahnya.

Saat Kenny menanyakan kepada bundanya, justru ibunya menyampaikan bahwa dirinya kilaf atau "gelap mata".

"Kalau dilihat ke belakang, kan ini dah lama.

Ini kan dah lama direncanain, kok bisa terpikirkan sama bunda kayak gini. Saat ditanya sama bunda apa motifnya, bunda cuman bilang khilaf, gelap mata," ujar Kenny.

Pengakuan Zuraida  ini mendapat tanggapan  dari Ketua Asosiasi Psikolog Forensik, Reni Kusumowardhani. 

Dalam wawancara di Program Sapa Indonesia Pagi, Kompas TV, Kamis (9/1/2020), Reni memaparkan bahwa jika konteksnya adalah pembunuhan berencana, maka alasan khilaf tidak bisa diterima. 

"Rasanya bukan khilaf lagi, tetapi ini semacam psikological pathway. Bagaimana perjalanan psikologisnya hingga dia sampai komit melakukan tindak pidana tertentu," kata Reni.

Menurut Reni, perjalanan psikologis yang pertama adalah apa permasalahan yang memotivasinya.

Dalam tahap ini,  dinamika psikologis yang terjadi pada kebanyakan orang akan merasakan sesuatu yang tidak sesuai. 

Jika seseorang memiliki awareness, maka hal itu tidak akan berlanjut. 

Namun jika ada rasionalisasi atas sesuatu yang tidak benar itu, justru akan merasionalisasi dan menjadikan insuisi moral tidak berkembang. 

Pada kasus ini, Reni menganalisa motif yang sering terjadi ada motif ekonomi. 

Setelah itu ada motif asmara dari salah satu atau kedua pihak. 

Bisa juga ada kecemburuan dan ketidakpuasan seksual. 

"Apalagi ada pihak ketiga yang terlibat bisa menimbulkan motivasi yang kemudian dalam keadaan gelap mata bisa terjadi.

Bisa semacam ketidakpuasan, atau dari sisi kepribadian orang terkait.

Ketersinggungan, kemarahan," terang Reni. 

Lihat video: 

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved