Breaking News:

Citizen Reporter

Diskusi Seru Membuka Rahasia Pendidikan Finlandia Bisa Maju, di UNUSA

Diskusi Seru Membuka Rahasia Pendidikan Finlandia Bisa Maju, di UNUSA. Diskusi Seru Membuka Rahasia Pendidikan Finlandia Bisa Maju, di UNUSA

Citizen Reporter/Akhmad Kanzul Fikri
Diskusi Seru Membuka Rahasia Pendidikan Finlandia Bisa Maju, di UNUSA 

SURYA.co.id - Finlandia, kata yang tak asing ditelinga para praktisi pendidikan. Itu karena sudah menjadi fakta umum bahwa negara itu memiliki sistem pendidikan yang menjadi percontohan di hampir seluruh negara.

Rahasia tentang perkembangan di negara dengan populasi 5,5 juta penduduk itulah yang diseminarkan oleh FKIP Universitas NU Surabaya (Unusa), Kamis (9/1/2020).

Mereka mendatangkan Allan Schneitz asal Finlandia, serta pakar pendidikan humanis Munif Chatib, Muslimin Ibrahim, dan ditutup pembicara kunci H Muhammad Nuh, Menteri Pendidikan 2009-2014.

Allan yang mendirikan Dream School menjelaskan, ada beberapa faktor yang menjadikan pendidikan di Finlandia maju.

Faktor itu adalah peraturan pemerintah yang konsisten alias tidak berubah-ubah, dukungan orang tua di rumah, komitmen dan profesionalitas guru, serta pola pembelajaran yang sederhana namun mampu membentuk karakter anak dengan utuh.

“Pembelajaran yang menggabungkan pola learner centric dan pendidikan holistik akan sukses. Bukan hanya menstimulus otak, melainkan juga mengoptimalkan hati dan karakter anak,” tutur Allan yang dibantu penerjemah.

Seminar internasional itu menarik minat ratusan peserta hingga auditorium terlihat penuh.

Peserta ada datang dari Malaysia, Kalimantan, Sulawesi dan beberapa lembaga pendidikan yang mengajak segenap pimpinan dewan gurunya untuk mengetahui lebih dekat konsep pendidikan Finlandia.

Sementara itu, menurut Chatib, tantangan guru pada 20 tahun mendatang adalah lompatan generasi Z yang makin lekat dengan teknologi. Maka guru harus kreatif.

“Jika tidak, ia akan tergantikan dengan robot,” tuturnya sembari menunjukkan betapa negara maju sudah menerapkan pendidikan digital yang canggih.

Pada sesi kedua usai istirahat, diskusi semakin seru ketika M Nuh memberikan paparan terkait pentingnya pembelajaran yang mengaitkan dengan realita yang dihadapi murid.

“Guru harus menghubungkan antara materi dengan realita. Jangan menjadi guru yang disconnect alias tidak nyambung,” sarannya di hadapan para guru.

Pendidikan di negeri ini memang masih menemui beberapa kendala, seperti minimnya guru yang kreatif, materi pembelajaran yang padat, serta regulasi yang tidak konsisten.

Oleh karena itu, sudah selayaknya pendidikan modern menawarkan simplicity (kesederhanaan materi), connectivity (tersambung dengan yang lain), desentralisasi, independensi, serta mempersiapkan masa depan siswa secara holistik; yakni keterpaduan antara kognisi, hati, dan keterampilan.

Akhmad Kanzul Fikri
Ketua Yayasan PP Al-Aqobah Jombang
akhmadkanzulfikri87@gmail.com

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved