Breaking News:

Berita Trenggalek

Antisipasi Bencana, Pemkab Trenggalek Petakan 6 Jalur Rawan Longsor dan 7 Jalur Rawan Banjir

Satuan Tugas (Satgas) Bencana Alam Kabupaten Trenggalek memetakan jalan raya rawan longsor dan banjir

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: irwan sy
aflahul abidin/surya
Jalur Trenggalek-Ponorogo KM 16 yang masuk dalam titik pemetaan rawan longsor. 

SURYA.co.id | TRENGGALEK - Satuan Tugas (Satgas) Bencana Alam Kabupaten Trenggalek memetakan jalan raya rawan longsor dan banjir di musim hujan tahun ini. Setidaknya, ada enam jalur paling rawan longsor yang terpetakan di Kabupaten Trenggalek.

Jalan itu, yakni jalur Trenggalek-Ponorogo KM 14-18, jalur Bendungan - Tulungagung via Selingkar Wilis, dan jalur Ngadimulyo - Besuki. Selain itu, jalur Suruh - Dongko - Nglebeng, alur Watuagung - Prigi, serta jalur Panggul - Munjungan - Watulimo via lintas selatan.

Sementara untuk jalur rawan banjir terpetakan di tujuh titik, yakni, jalur Kendalrejo-Kedunglurah-Bendorejo, jalan utama Soekarno Hatta - Panglima Soedirman, dan jalur Tamanan - Sumber. Selain itu, jalur Jambu - Dermosari di Kecamatan Tugu, jalur Desa Jati di Kecamatan Karnagan, jalur Wonocoyo - Nglebeng di Kecamatan Panggul, dan jalur Bendorejo - Craken di Kecamatan Munjungan.

Kepala BPBD Trenggalek, Joko Rusianto, mengatakan jalur-jalur tersebut harus diwaspadai oleh para pengguna jalan ketika terjadi hujan dengan intensitas sangat tinggi.

Joko bilang, pemda telah mengantisipasi agar dampak dari bencana yang akan terjadi bisa diminimalisir.

"Di antaranya, menyiapkan sejumlah peralatan penanganan bencana, persiapan personil, hingga pemasangan rambu-rambu," kata Joko, Minggu (12/1/2020).

Antisipasi lain, yakni dengan membentuk posko kebencanaan.

Posko ini telah disiapkan sejak awal masa pergantian musim beberapa waktu lalu.

Sementara untuk penanganan jangka panjang, pemkab dan banyak instansi di Trenggalek menggalakkan penanaman pohon untuk reboisasi.

Harapannya, langkah itu bisa mengatasi persoalan banjir dan tanah longsor pada beberapa tahun ke depan.

"Intinya menjaga keseimbangan alam," tutur dia.

Analisa tersebut, kata Joko, merupakan hasil dari sebuah pemetaan. Artinya, bukan rujukan pakem.

"Sebab terdapat juga potensi titik bencana, misalnya, bencana angin puting beliung yang melanda Kecamatan Gandusari beberapa waktu lalu tak masuk dalam peta potensi," pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved