Berita Banyuwangi

Banyuwangi Pamerkan Sidat Berorientasi Ekspor dan Produk Olahan Perikanan di HUT PDIP

Anas mengatakan, selama ini sidat Banyuwangi banyak diekspor ekspor ke Jepang, Singapura dan Vietnam. Komposisi terbesar dikirim ke Jepang.

Banyuwangi Pamerkan Sidat Berorientasi Ekspor dan Produk Olahan Perikanan di HUT PDIP
SURYA.co.id/Haorrahman
Berbagai macam jenis ikan sidat dan olahannya dari Banyuwangi dipamerkan dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional PDI Perjuangan yang bertepatan dengan ulang tahun partai tersebut pada hari Jumat (10/1/2020) ini. 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - Berbagai macam jenis ikan sidat (Anguilliformes) dan olahannya dari Banyuwangi yang biasa diekspor ke Jepang ikut dipamerkan dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional PDI Perjuangan yang bertepatan dengan ulang tahun partai tersebut pada 10 Januari 2020.

“Banyuwangi menampilkan sidat dengan berbagai olahan menggunakan rempah khas Indonesia, mulai bumbu bali, rica-rica dan kare. Semuanya sudah dalam bentuk kemasan higienis. Sidat yang diolah dengan rempah-rempah unggulan menjadi komoditas bernilai ekonomis tinggi yang bisa memberi manfaat bagi ekonomi masyarakat,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Jumat (10/1/2019).

Sejumlah sidat yang ditampilkan antara lain sidat glass eel, elver, hingga sidat siap panen. Ikan tersebut dipamerkan dalam kondisi hidup, sehingga peserta bisa melihat langsung kondisi hidupnya hingga diolah melalui beragam olahan pangan.

Sidat sendiri adalah kelompok ikan yang memiliki tubuh ramping, masuk dalam Ordo Anguilliformes. Ordo sidat tersebut terdiri atas 4 sub ordo, 19 famili, 110 genera dan 400 spesies. Selain hidup di laut, ada jenis tertentu yang dibudidayakan di air tawar.

Anas mengatakan, selama ini sidat Banyuwangi banyak diekspor ekspor ke Jepang, Singapura dan Vietnam. Komposisi terbesar dikirim ke Jepang.

Di Jepang, banyak restoran menyajikan sidat atau yang biasa disebut sebagai ”unagi”.

Dalam pameran tersebut juga ditampilkan informasi mengenai cara budidaya sidat hingga beragam olahan sidat, termasuk cara memasaknya seperti kabayaki, yaitu teknik memasak ikan dengan dibelah dan dibuang isi perut serta tulangnya, lalu diberi bumbu-bumbu tertentu.

Anas mengatakan, sidat merupakan salah satu potensi sektor perikanan yang potensial untuk dikembangkan. Beberapa tahun lalu, masih sedikit pelaku usaha perikanan di Banyuwangi yang membudidayakan sidat. Kebanyakan masih perusahaan skala besar.

Namun, melihat potensinya, kini kelompok pembudidaya ikan rakyat mulai tertarik mengembangkannya. Di antaranya telah berdiri ”Sidawangi” yang membudidayakan sidat bermitra dengan perusahaan eksportir.

Di Banyuwangi juga telah ada ”Kampung Sidat” yang berada di tengah areal persawahan Dusun Jopuran dan dikemas menjadi sebuah destinasi wisata alam.

Di kawasan tersebut, terdapat kolam-kolam sidat dengan air yang jernih. Maklum saja, airnya mengalir dari hulu pegunungan Ijen. Kampung tersebut juga dibina oleh TNI Angkatan Laut.

”Sejumlah usaha kuliner Banyuwangi kini juga mulai menghadirkan menu sidat, padahal dulu biasanya hanya diekspor. Mereka menyajikan pepes sidat, sidat ungkep dan sejenisnya,” ujarnya.

Ikan sidat, lanjut Anas, hanya mau hidup di air yang bersih, Banyuwangi memenuhi persyaratan tersebut.

”Tentu pengembangan olahan perikanan ini membutuhkan riset dan inovasi dalam berbagai bentuknya. Potensi kekayaan Indonesia jika digerakkan dengan riset dan inovasi akan menjadi kekuatan dahsyat. Maka sangat tepat PDI Perjuangan menggaungkan tema terkait riset dan inovasi nasional dalam rangkaian ulang tahunnya yang ke-47 pada tahun ini,” ujarnya.

Penulis: Haorrahman
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved