Breaking News:

Jatim Rawan Bencana

Masuk Kategori Daerah Rawan Tsunami, Longsor dan Banjir, Ini yang Dilakukan Pemkab Pacitan

Kota Seribu Goa ini masuk dalam kategori daerah rawan bencana tsunami, tanah longsor dan banjir.

Penulis: Rahadian Bagus | Editor: Titis Jati Permata
surya.co.id/rahadian bagus priambodo
Tanggul sementara dari kantong berisi pasir di Dusun Kiteran, Desa Kembang, Kecamatan/Kabupaten Pacitan, untuk mencegah luapan air dari sungai Grindulu. 

SURYA.co.id | PACITAN - Sebanyak 15 pemerintah Kabupaten/Kota di Jawa Timur telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) Kesiapsiagaan Bencana, termasuk di antaranya Pacitan.

Kota Seribu Goa ini masuk dalam kategori daerah rawan bencana tsunami, tanah longsor dan banjir.

"Bupati Pacitan sudah menerbitkan SK Bupati tentang penetapan status siaga darurat penanganan bencana banjir dan longsor dan bencana lainnya, pada 11 November 2019. Ditindaklanjuti dengan membentuk tim siaga banjir dan longsor," kata Kepala BPBD Kabupaten Pacitan, Didik Alih Wibowo, saat dikonfirmasi, Sabtu (4/1/2019) di ruang kerjanya.

Di menuturkan, dengan penerbitan SK kesiapan bencana, maka daerah akan lebih mudah dalam penyiapan kesiagaan bencana.

Tim siaga bencana merupakan anggota BPBD berjumlah 15 orang yang akan berjaga 24 jam.

"Kami persiapkan 15 orang mereka akan menjadi tim asesmen, ada tim A, B, dan C. Bergantian pagi, siang, malam," katanya.

Anggota tim siaga bencana yang berjaga di Kantor BPBD Pacitan akan bergerak ke lokasi bencana ketika mendapat laporan atau informasi terkait bencana di Kabupaten Pacitan.

"Petugas yang berjaga ketika ada informasi ada bencana langsung TRC bergerak. Ketika butuh penanganan lebih besar, kami akan berkoordinasi dengan TNI dan Polri, serta tim gabungan," katanya.

Dia menuturkan, selain itu apabil terjadi bencana besar, ada 42 lembaga dan relawan yang siap digerakan untuk membantu penanganan bencana sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Dalam penanganan pencegahan bencana, BPBD melibatkan seluruh elemen masyarakat untuk bergotong royong.

Ia memberikan contoh, ketika memperbaiki tanggul sementara di Dusun Kiteran, Desa Kembang, Kecamatan/Kabupaten Pacitan.

"Kami baru saja melaksanakan kerja bakti, diikuti warga sekitar 800 orang, memperbaiki tanggul sementara. Nanti 2020 ini akan kami tindaklanjuti dengan menggunakan anggaran dari pemda, meski ini sebenarnya kewenangan BBWS," jelasnya.

Pasca banjir besar yang terjadi pada 2017, masyarakat Kabupaten Pacitan, kini sudah mulai sadar untuk tanggap bencana.

Pelatihan tanggap bencana yang diikuti masyarakat, baik secara mandiri oleh masing-masing desa atau difasilitasi BPBD rutin diadakan.

"Baru saja diadakan pelatihan gladi posko, gladi koordinasi, gladi perencanaan, kemudian dialnjutkan dengan praktek simulasi kebencanaan," imbuhnya.

Selain itu, di setiap sekolah di Kabupaten Pacitan juga dilakukan sosialisasi mengenai kebencanaan.
Sehingga para pelajar tahu apa yang harua dilakukan untuk mencegah bencana dan saat terjadi bencana.

Dia menambahkan, selain itu pihaknya secara berkala memeriksa Early Warning System (EWS) yang akan memberikan peringatan saat terjadi potensi bencana banjir dan tsunami.

EWS dipasang di tiga titik, satu di wilayah Dermaga Tamperan, dan dua di antaranya di wilayah kota.

"Setiap tanggal 26 kami udpate, kami pastikan EWS berfungsi dengan baik," katanya.

Tidak hanya itu saja, BPBD Pacitan juga memasang ratusan rambu evakuasi bantuan dari BNPB.
Dengan demikian, harapannya masyarakat tahu di mana saja jalur evakuasi saat terjadi bencana.

Belajar dari pengalaman banjir 2017, BPBD Pacitan juga melibatkan kalangan swasta atau pengusaha untuk turun membantu saat terjadi bencana.

Pada 2017, akses jalan utama menuju Pacitan dari arah timur, barat dan utara tertutup material longsor dan menyebabkan Pacitan terisolasi selama sehari, karena harus menunggu alat berat untuk membersihkan longsoran.

"Kami sudah mengumpulkan beberapa pengusaha, untuk kami ajak MoU, sehingga ketika terjadi bencana mereka bergerak tanpa harus diminta," katanya.

Didik menambahkan, pencegahan lain yang dilakukan yaitu dengan menanam pohon berakar kuat untuk mencegah longsor di wilayah pegunungan.

Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved