Breaking News:

Jatim Rawan Bencana

Kisah Warga Pacitan Tentang Banjir Dahsyat Tahun 2017, Khawatir Terjadi Kembali

Banjir dan yang longsor yang disebabkan siklon tropis Cempaka ini menyebabkan 20 korban meninggal dunia.

Penulis: Rahadian Bagus | Editor: Titis Jati Permata
surya.co.id/rahadian bagus priambodo
Rumah Dodik Suko Prasongko (39) yang terendam banjir pada 2017 lalu. 

Dia menuturkan, saat itu ayahnya, Mislan, masih berada di rumah.

Saat itu, ayahnya tidak ikut lantaran mengira air akan segera surut, selain itu lantai rumahnya juga sudah ditinggikan sekitar satu setengah meter dari tinggi halaman rumah.

Saat akan kembali ke rumah untuk mengevakuasi ayahnya, banjir ternyata semakin tinggi dan arus semakin kencang.

"Ketika itu air tidak juga surut, saya berpikir kalau air berhenti (tidak ada arus), saya terjun berapa pun dalamnya. Karen nggak berhenti mengalir saya mengurungkan niat. Apalagi tenaga saya sudah habis waktu itu," katanya.

Dia sempat berusaha meminta pertolongan dari petugas BPBD Kabupaten Pacitan yang berada di lokasi saat itu. Namun, karena banyak warga yang meminta dievakuasi,

"Kemudian saya minta tolong ke petugas BPBD, Tim SAR, tapi nggak ada yang menolong. Yang saya heran, saat itu yang dievakuas justru orang-orang yang berada di tempat aman, di rumah tingkat, yang terjangkaulah," ujarnya.

Saat itu, satu-satunya harapan ayahnya naik ke atas pohon di depan rumahnya.

Namun, ternyata ayahnya tidak bisa menjangkau pohon dan dinyatakan meninggal oleh dokter karena hipotermia.

"Dari pemeriksaan dokter, bapak meninggal karena hipotermia, jadi jantungnya membengkak," katanya.

Lebih dari 12 jam kemudian atau keesokan harinya 29 November 2017, sekitar pukul 07.30, ayahnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa, mengapung di depan rumah.

Halaman
1234
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved