Berita Surabaya

Mengenal Inge Ariani Safitri, Berdedikasi Mengembalikan Budaya Mendongeng ke Rumah

Dongeng merupakan sarana komunikasi dan belajar yang efektif. Apabila hal ini dibudayakan, maka akan memperkuat ikatan keluarga

Penulis: Christine Ayu Nurchayanti | Editor: Cak Sur
SURYA.co.id/Sugiharto
Inge Ariani Safitri, aktivis dongeng yang kini aktif menyebarluaskan budaya mendongeng lewat kegiatan Kumpul Dongeng Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kegiatan mendongeng kepada anak-anak memiliki banyak manfaat. Itulah yang diyakini oleh Inge Ariani Safitri, aktivis dongeng yang kini menjadi koordinator Kumpul Dongeng Surabaya

Selain bisa mengasah kemampuan berimajinasi dan berpikir, Inge meyakini bahwa mendongeng bisa memperkuat ikatan antara orangtua dan anak.

"Dongeng merupakan sarana komunikasi dan belajar yang efektif. Apabila hal ini dibudayakan, maka akan memperkuat ikatan keluarga. Dengan demikian, si anak akan memiliki tameng yang bagus dalam menghadapi berbagai tantangan," kata Inge saar ditemui di kawasan Ahmad Yani Surabaya, Sabtu (4/12/2020).

Bahkan, lanjutnya, cerita-cerita yang tidak bisa diungkapkan anak kepada orang lain, bisa diceritakan kepada keluarga melalui kebiasaan mendongeng.

Oleh karena itu, perempuan kelahiran Bandung, 9 April 1971 ini bertekad untuk mengajak masyarakat, utamanya orang tua, untuk kembali membudayakan dongeng di lingkungan keluarga.

Tak sendirian, ia berjuang bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam Komunitas Kumpul Dongeng Surabaya (@kumpuldongengsby).

"Gerakan ini ada sejak 2015, setelah saya pindah ke Surabaya dari Bandung. Awalnya untuk kegiatan deklarasi Hari Dongeng Nasional," ia mengisahkan.

Setelah kegiatan itu, ternyata ia dan rekan-rekannya merasa bahwa gerakan tersebut harus terus dijalankan, melihat saat itu tak banyak masyarakat yang sadar pentingnya mendongeng.

"Sekarang terdapat 60 anggota, 30 di antaranya yang benar-benar aktif. Alhamdulillah, 15 di antaranya sudah berani mendongeng di depan umum," ungkap perempuan berkacamata ini.

Beragam kegiatan dilakukan oleh Kumpul Dongeng Surabaya. Mulai dari sharing seputar dunia mendongeng, lokakarya, agenda tahunan seperti Festival Dongeng Surabaya dan sebagainya.

Tak dijalankan sendiri, kegiatan-kegiatan tersebut juga berkolaborasi dengan komunitas, instansi dan pihak-pihak lainnya.

Tapi, jauh sebelum aktif dalam Komunitas Kumpul Dongeng Surabaya, alumnus Universitas Padjajaran Bandung ini sudah terbiasa mendongengkan anaknya sejak 1996.

"Sebelum 2015, ketika belum di Surabaya, saya juga aktif dalam kegiatan anak-anak. Pada 2012, misalnya, saya memiliki kelompok belajar yang kegiatannya diawali dengan mendongeng. Saya juga pernah aktif di daycare, sekolah TK dan sebagainya," ia mengatakan.

Dalam mendongeng, Inge kerap membawa media yang erat dengan dirinya yakni gitar kecil berwarna cokelat muda.

"Ayah suka main musik. Saya terbiasa dengan menyanyi bersama. Dalam mendongeng, memang saya suka main gitar, meski nggak jago-jago amat," ungkap Inge sambil tertawa.

Menurutnya, lagu dan dongeng merupakan media yang efektif untuk menyampaikan pesan.

"Lagu dan dongeng membuka komunikasi yang baik bagi anak. Melalui menyanyi dan mendongeng, pesan yang ingin disampaikan akan lebih mudah dicerna anak-anak," katanya.

Kepada masyarakat, khususnya orang tua, Inge pun berpesan untuk membiasakan dongeng kepada anak. Menurutnya, tak harus punya kemampuan layaknya pendongeng profesional.

"Ada tiga rumus dalam mendongeng, yakni niat, tekad dan lamukan. Semua orang bisa mendongeng. Asal kita tahu manfaat dan tujuannya. Mari kita kembalikan dongeng ke rumah", tandasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved