Berita Lifestyle

Rahmawati Riree Bercerita Lewat Kanvas : Melukis Medium Penyembuhan Bagi Saya

Emosi-emosi yang dulu ia lampiaskan dengan cara membuang barang, memecahkan kaca, dan lainnya, bisa tereduksi gara-gara melukis.

Rahmawati Riree Bercerita Lewat Kanvas : Melukis Medium Penyembuhan Bagi Saya
surya.co.id/sugiharto
Pelukis Rahmawati Riree menyelesaikan lukisannya di sebuah kaca di kawsan Ngagel Jaya Utara Surabaya, Kamis (2/1/2020). 

SURYA.co.id, SURABAYA - Sejak 2015, Rahmawati Riree, seniman alumnus Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW), mengetahui dirinya menyandang bipolar.

"Sejak akhir 2015, saya rutin berobat ke psikiater. Suatu ketika, saya berada di titik yang paling rendah. Saya capek dengan berbagai masalah yang kompleks," kata Riree ditemui dalam pameran tunggalnya di Co'lab Space, Kamis (2/1/2019).

Ketika itu, ia menelan langsung 23 pil dari dokter.

Hampir overdosis, ia mengatakan. Untungnya nyawanya masih tertolong.

"Setelah 20 jam, saya baru sadar. Waktu itu dirujuk ke RSJ Menur. Selang lima hari, saya pulang. Saat itu saya sudah cuti kuliah dan tidak lagi berkegiatan. Berbagai pengobatan alternatif juga saya jalani, tapi hasilnya tidak maksimal," kata Riree.

Saat titik rendahnya itu, perempuan 23 tahun ini mengatakan, orang-orang di sekitarnya datang silih berganti.

Pada akhirnya, ia merasa percuma panjang lebar bercerita.  Toh, ujung-ujungnya mereka pergi.

Sampai akhirnya ia sadar telah memiliki sosok yang akan terus mendengarkan ceritanya, yakni kanvas.

"Pada 2016, saya mulai merasa melukis ialah medium (penyembuhan) bagi saya. Ketika orang-orang datang dan pergi, kanvas tetap ada. Saya ngerasa ngrobol sama mereka," katanya.

Emosi-emosi yang dulu ia lampiaskan dengan cara membuang barang, memecahkan kaca, dan lainnya, bisa tereduksi gara-gara melukis.

Halaman
123
Penulis: Christine Ayu Nurchayanti
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved