Berita Gresik

Peredaran Narkoba di Gresik Tinggi Disebut Imbas dari Surabaya, BNN Temukan Jenis Baru

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Komjen Pol Heru Winarko menyebut narkoba jenis baru ada di kota Pudak.

Peredaran Narkoba di Gresik Tinggi Disebut Imbas dari Surabaya, BNN Temukan Jenis Baru
surya.co.id/willy abraham
Kepala BNN RI, Komjen Pol Heru Winarko di kantor BNNK Gresik, Selasa (24/12/2019). 

SURYA.co.id | GRESIK - Peredaran narkoba di Kabupaten Gresik masih tinggi.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Komjen Pol Heru Winarko menyebut narkoba jenis baru ada di kota Pudak.

"Gresik cukup tinggi imbas dari Surabaya, Lamongan, Tuban. Di sini jenis macam-macam tidak hanya sabu, karnopen, ada narkoba jenis baru New Psychoactive Substances (NPS)," ujarnya kepada wartawan, Selasa (24/12/2019).

Menurutnya, Kabupaten Gresik yang merupakan penyangga ibu kota Provinsi bisa menjadi benteng agar tidak menjadi imbas.

"Kita akan diskusi Wabup, bagaimana Gresik sebagai penyangga agar narkoba tidak masuk dari Lamongan, Surabaya dari Madura. Harapan ada ketahanan. Ada program yaitu program Desa bersinar bersama-sama menjaga desanya dari pengaruh narkoba," tambahnya.

Kemudian, program intervensi keluarga untuk mempunyai ketahanan di rumah. Saat ini anak muda bukan lagi generasi milenial tapi generasi Z.

"Penanganannya ini tidak sama," tegasnya.

Sementara itu, kasus narkoba di Provinsi Jawa Timur cukup tinggi bahkan melebihi nasional.

"Terutama permintaan cukup tinggi paling tinggi 1,8 persen. Sedangkan di Jawa diatas 2,1 persen," kata dia.

Lanjut Heru, di Jawa Timur banyak segala jenis narkoba selain ganja dan sabu.

"NPS ada paling bahaya menurut saya harganya murah kayak PCC, Karnopen. Generasi muda dan para pekerja yang meningkat," tutupnya.

Sementara itu, Wabup Qosim, menuturkan beberapa waktu lalu di Kecamatan Menganti BNNK berhasil menemukan narkoba satu ons.

Kemudian, di Kecamatan Manyar ternyata BNNK Gresik berhasil menemukan ganja seberat 1 Kg beberapa waktu lalu.

"Maghrib kendaraan lebih banyak mampir di cafe daripada ke masjid. Dikhawatirkan ini bisa menjadi peredaran obat-obatan terlarang," pungkasnya.

Penulis: Willy Abraham
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved