Sabtu, 2 Mei 2026

Liga Indonesia

Kalah dari PSG Gresik, Pelatih Perseta Tulungagung Ungkit Soal Mafia Sepakbola

Semua orang bisa melihat tidak hanya saya. Orang tahu bola bisa menilai. Wasit mencari-cari pelanggaran

Tayang:
Penulis: Willy Abraham | Editor: Titis Jati Permata
surya.co.id/willy abraham
Pemain PSG Gresik, Muhammad Rifhky Rifaldy (tengah) diapit dua pemain Perseta Tulungagung di Stadion Gelora Joko Samudro, Senin (23/12/2019). 

SURYA.co.id | GRESIK - Perseta Tulungagung gagal meraih kemenangan di laga kedua babak 8 besar Liga 3 2019 melawan tuan rumah Putra Sinar Giri (PSG) Gresik di Stadion Gelora Joko Samudro.

Pelatih Perseta, Ungki Prasetyo menyebut mafia sepakbola di Indonesia masih ada.

Ungki menyebut, pertandingan kedu tim awalnya berjalan seru.

Namun, 20 menit terakhir mendapat tekanan baik dari servis bola mati atau juga umpan langsung menuju jantung pertahanan.

Hal ini membuat konsentrasi pemainnya buyar.

Apalagi kondisi para pemain lelah sekali usai dua kali main.

Menurutnya, kepemimpinan wasit Rohani asal Jakarta Pusat berat sebelah.

"Semua orang bisa melihat tidak hanya saya. Orang tahu bola bisa menilai. Wasit mencari-cari pelanggaran set piece bola mati untuk pihak lawan. Sangat terasa sekali," ujarnya saat konferensi pers, Senin (23/12/2019).

Sebelum pertandingan PSG Gresik melawan Perseta Tulungagung, dia mendapat kabar dari rekan sejawatnya tentang pertandingan melawan PSG Gresik di stadion Gelora Joko Samudro.

"Bukan kami saja, teman-teman selain kami mendapatkan hal serupa. Intinya mafia sepakbola di Indonesia masih ada," kata dia.

Kejanggalan itu baru terasa saat tim tamu unggul.

Timnya seperti dikerjai apalagi saat 20 menit menjelang akhir pertandingan. Keputusan wasit mengada-ngada.

Ditambah lagi, keunggulan tim lawan karena memiliki pemain depan dengan postur tinggi.

Masih kata Ungky, Perseta seharunya mendapat hadiah penalti namun wasit malah bergeming.

"Saya lihat sendiri wasit sudah memegang peluit loh di depan mulutnya. Terus dia turunkan lagi," pungkasnya.

Usai wasit Rohani meniup peluit panjang pertandingan, tim tamu masih tidak terima.

Mereka mendekati wasit dan meminta penjelasan.

Hingga akhirnya keributan terjadi, wasit sempat terjatuh kaosnya ditarik pemain dan ofisial Perseta Tulungagung.

Wasit langsung lari menuju lorong stadion. Para pemain Laskar Badai Selatan tampak sedih.

Mereka hanya bisa termenung di pinggir lapangan. Kekalahan ini membuat langkah Perseta untuk merebut tiket lolos Liga 2 musim depan menipis.

Tim kebanggaan warga Tulungagung ini harus bisa menang atas pemuncak klasemen Persijap Jepara di laga pamungkas, Kamis (26/12/2019).

Sementara itu, gelandang Perseta, Muhammad Fathurrohman mengatakan pemain telah bermain cukup keras.

Namun, pertandingan di menit akhir keputusan wasit merugikan tim.

"Semua teman-teman kecewa sekali dirugikan sekali. Pelanggaran jelas penalti malah tidak penalti," kata dia.

Dikonfirmasi terpisah, pelatih PSG Gresik, Khoirul Anam mengaku menyerahkan semua kepada pengadil di lapangan.

Keputusan wasit juga merugikan tuan rumah. Namun, pihaknya tidak menggebu-gebu merespon keputusan wasit tersebut.

"Kita serahkan ke pengadil. Dia sudah maksimal. Kita beberapa kali ada pelanggaran di titik penalti tidak dikasih. Kita tidak muluk-muluk," tutupnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved