Pembacokan Ngelom Sidoarjo
BREAKING NEWS, Pria Sidoarjo Tewas Dibacok di Rumah Kos Ngelom, Warga Mendengar Cek-cok
Pembacokan maut terjadi di sebuah kos Dusun Ngelom Megare, Ngelom, Taman, Sidoarjo, Sabtu (21/12/2019). Seorang tewas.
Penulis: Kukuh Kurniawan | Editor: Musahadah
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Kukuh Kurniawan
SURYA.CO.ID - Pembacokan maut terjadi di sebuah kos Dusun Ngelom Megare, Ngelom, Taman, Sidoarjo, Sabtu (21/12/2019).
Kejadian berdarah ini mengakibatkan seorang tewas.
Seorang warga, Chuzairah mengatakan awal mulanya ia mendengar suara keributan di tempat kos tersebut.
"Kayak orang berantem gitu tapi saya enggak berani lihat. Tahu tahu saya lihat korban sudah tergeletak di depan kos dengan penuh darah," ujarnya kepada TribunJatim.com, Sabtu (21/12/2019).
Akhirnya korban bersama warga pun dilarikan ke RS. Siti Khodijah. Namun ketika dalam perjalanan, korban akhirnya meninggal dunia.
Saat TribunJatim.com berada di lokasi kejadian, di depan kost terlihat penuh dengan darah yang telah ditutupi oleh koran serta diberi garis polisi.
Diduga, bacokan itu terjadi saat mereka terpengaruh minuman keras.
Kapolresta Sidoarjo, Kombes Pol. Zain Dwi Nugroho pun langsung turun ke lokasi kejadian.
Dan saat ini, pihaknya masih mendengarkan keterangan dari petugas di lapangan.
Peristiwa di Gresik
Kejadian serupa juga terjadi di di Desa Madumulyorejo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik.
Erna (47) tewas dibacok, Suwoto, mertuanya pada 6 Oktober 2019 dengan sabit.
Erna meninggal dunia saat akan dibawa menuju Puskesmas Mentaras, Minggu (6/10/2019) pukul 12.30 wib.
Kemudian, pelaku juga membacok punggung istrinya sendiri hingga mengalami luka berat dan saat ini sedang dalam perawatan intensif di RSUD Ibnu Sina.
Semasa hidupnya, Erna dikenal baik oleh tetangga.
Sekretaris Desa Madumulyorejo, Astuti saat ditemui di Balai Desa Madumulyorejo itu hanya menatap meja di balai desa dengan tatapan kosong.
Dia menceritakan sebelum kejadian maut yang merenggut nyawa Erna.
"Malam sebelum kejadian, Erna bilang ke saya. Bapak sepertinya kumat, keluar masuk rumah. Mungkin obatnya habis. Besok mau saya rujuk," katanya sambil menirukan ucapan korban, Senin (7/10/2019).
Dia tak menyangka, ternyata itu adalah curhatan terakhir Erna.
Astuti langsung menghentikan aktivitasnya melipat taplak meja.
Dia memberi tahu kenangan terakhir bersama korban saat gerak jalan menggunakan pakaian berwarna oranye.
"Ternyata itu yang terakhir kalinya," ujarnya.
Saat kejadian, Astuti langsung bergegas menuju kediaman korban dari Puskesmas Mentaras.
Dia melihat korban mengalami luka robek sepanjang 15 sentimeter di leher dan dilarikan ke Puskesmas Mentaras.
Di mata Astuti, korban merupakan wanita tangguh.
Dia meninggalkan seorang anak laki-laki yang belum genap berusia dua tahun.
Anak laki-lakinya itu menderita sakit di tenggorokan.
Korban juga sedang mengurus Kartu Indonesia Sehat (KIS).
Kartu itu rencananya digunakan untuk mengobati putra semata wayangnya tetapi belum jadi.
Akibat luka bacok oleh mertuanya sendiri yang mengidap gangguan jiwa, Erna meregang nyawa dalam perjalanan menuju Puskesmas Mentaras.
Korban harus meninggalkan buah hatinya selama-lamanya.
"Sekarang sudah dibawa pulang ke Ngawi, korban asli Ngawi," tutupnya.
Suaminya, Syaiful Arif (35) hanya seorang sopir.
Dia seminggu sekali pulang menjenguk kedua orang tua, istri dan anaknya.
Sementara itu, tetangga korban, Kastiah juga mengatakan hal yang sama.
Semasa hidup, Erna dikenal sebagai wanita yang baik.
"Sering menyapa. Orangnya ramah, baik," kata dia.
Erna bukanlah satu-satunya korban dalam peristiwa maut kemarin siang.
Mertuanya Suwoto (56) itu juga membacok istrinya sendiri, Kamsinga (54) di bagian punggung hingga mengalami luka berat dan harus dilarikan menuju IGD RSUD Ibnu Sina.
Warga Trauma
Kastiah, salah satu tetangga, hanya mengelus dada saat ditemui.
Wanita berusia 70 tahun itu berjalan menghampiri rumah Suwoto yang berada persis di samping rumahnya itu sambil memegangi tembok.
"Saya masih ingat betul kejadian kemarin. Saya baru selesai salat lalu melihat tetangga saya dibacok oleh suaminya sendiri," katanya sambil berkaca-kaca, Senin (7/10/2019).
Dia langsung duduk di sebuah tempat duduk yang terbuat dari bambu di depan rumah Suwoto.
Kemudian dia menunjukkan, di dalam rumah itu masih banyak darah.
Darah itu, luka dari leher Erna (47) menantu pelaku yang dibacok dengan sabit dan darah Kamsinga (54) istri pelaku sendiri.
Kemudian, pelaku yang keluar rumah sambil menenteng sabit saak akan diamankan warga juga membuat warga trauma.
Dia tidak ingin kejadian itu terulang lagi.
"Masih banyak darah disana, bawa sabit keluar rumah darahnya masih menetes di depan rumah," ujarnya.
Suasana di Dusun Madumulyorejo RT 05/RW 02, Desa Mentaras itu tampak sepi.
Tidak ada aktivitas berarti dari warga sekitar. Hanya ada anak kecil yang sedang bermain di teras rumah warga.
Kejadian di siang hari kemarin, merupakan peristiwa maut yang kedua dialami warga Desa Mentaras.
Pada tahun ini, seorang anak, Rozikin nekat menggorok leher ibunya sendiri tidak jauh dari kediaman Suwoto.
Romzin tetangga korban mengaku was-was setelah peristiwa maut itu.
Dia lebih memilih mengunci rumahnya saat keadaan sepi.
"Kami minta agar pelaku seperti itu segera diproses. Kalau bisa pemerintah buatlah aturan kalau pelaku sudah bebas agar tidak dikembalikan lagi ke desa. Kami trauma," tutupnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/kapolresta-sidoarjo-kombes-pol-zain-dwi-nugroho-saat-mendatangi-lokasi-kejadian.jpg)