Jiwasraya Gagal Bayar Nasabah Rp 12,4 Triliun hingga Digugat, Ini Solusi Jitu Presiden Jokowi

Perusahaan plat merah, Jiwasraya gagal bayar nasabah sebesar Rp 12,4 triliun. Harusnya, pembayaran dilakukan per Desember 2019, tapi tidak terlaksana.

kolase Kompas.com
Jiwasraya Gagal Bayar Nasabah Rp 12,4 Triliun, Jokowi Sebut Bermasalah Sejak Era SBY, Ini Solusinya 

Modusnya melalui melalui saham overprice yang dibeli oleh Jiwasraya, kemudian dijual pada harga negosiasi (di atas harga perolehan) kepada manajer investasi, untuk kemudian dibeli kembali oleh Jiwasraya.

Kesalahan berikutnya adalah pembentukan harga produk saving plan yang ditawarkan dengan jaminan return sebesar 9 persen hingga 13 persen sejak 2013 hingga 2018 dengan periode pencairan setiap tahun.

2. Bos Samsung menjadi korban

Kasus gagal bayar polis asuransi Jiwasraya tidak hanya menimpa warga Indonesia tetapi juga warga negara asing (WNA).

Dikutip dari Kontan, 17 Desember 2019, Lee Kang Hyun, warga negara Korea Selatan yang juga menjabat sebagai VP Samsung Electronics Indonesia memaparkan, terdapat 474 warga Korea Selatan yang dananya terancam tidak bisa dicairkan di Jiwasraya.

Secara keseluruhan total dana warga Korsel tersebut mencapai Rp 572 miliar melalui KEB Hana Bank.

"Hana Bank jual ke orang Korea di Indonesia," ujar Lee.

Dia menyatakan, KEB Hana menyampaikan ke calon nasabah jika asuransi tersebut aman, tanpa bunga dan interest lebih tinggi dari pada yang lain karena produk BUMN.

3. Jiwasraya tidak sanggup lunasi polis akhir 2019

Pemegang polis JS Saving Plan Asuransi Jiwasraya harus bersabar untuk menerima pembayaran klaim.

Jiwasraya menyatakan tidak sanggup memenuhi kewajiban pembayaran yang nilainya mencapai Rp 12,4 triliun per Desember 2019.

Direktur Utama Jiwasraya Hexana Tri Sasongko mengatakan pihaknya tidak bisa membayar polis karena sumbernya dari corporate action.

"Saya minta maaf ke nasabah," ungkapnya, Senin (16/12/2019).

Dia juga tidak bisa memastikan kapan Jiwasraya bisa membayar klaim pemegang polis yang sudah jatuh tempo.

Menurutnya, harapan Jiwasraya adalah kehadiran investor Jiwasraya di awal 2020.

Seandainya transaksi investasi itu closing sesuai jadwal, polis Saving Plan yang sudah jatuh tempo tetap tidak bisa dibayar penuh.

"Tapi pembayarannya dicicil, tidak bisa full," imbuhnya.

4. Jual saham anak usaha

Di tengah persoalan gagal bayar, Jiwasraya tengah menjual saham anak usaha, Jiwasraya Putra ke investor agar dapat membiayai klaim nasabah.

Sejumlah investor dalam dan luar negeri tertarik masuk ke bisnis ini.

Hexana menjelaskan, investor asing tertarik masuk ke Jiwasraya Putra lantaran potensi pasar asuransi jiwa di Indonesia.

Alasan lainnya, Jiwasraya juga memiliki potensi untuk memanfaatkan captive market dari BUMN.

Menurutnya, saat ini BUMN mempunyai 120 perusahaan, 311 anak usaha serta 5.000-an korporasi yang telah menjadi nasabah Jiwasraya.

5. Aset Jiwasraya menyusut

Jiwasraya sebenarnya memiliki aset tetapi nilainya menyusut menjadi Rp 2 triliun dari Rp 25 triliun.

Sehingga, nilai aset tersebut tidak mungkin diandalkan untuk melunasi pembayaran.

"Ada beberapa inisiatif dan saya enggak bisa memberikan detailnya sekarang," katanya.

6. Tidak ada dana talangan

Salah satu yang menjadi persoalan adalah tidak adanya dana talangan dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk melunasi klaim nasabah Jiwasraya yang jatuh tempo tahun depan.

"Pada 2020 tidak ada anggaran untuk Jiwasraya," kata Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kemenkeu Isa Rachmatawarta, Senin (16/12).

Namun, ia tidak mau berkomentar terkait potensi pemberian dana talangan Jiwasraya pada 2021.

"Saya no comment," ujarnya.

7. DPR menduga ada permainan manajemen lama

Kasus gagal bayar ini turut menyeret manajemen lama Jiwasraya.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah mengindikasikan adanya permainan manajemen lama sehingga PT Asuransi Jiwasraya (Persero) mengalami krisis keuangan.

Komisi VI DPR merekomendasikan permasalahan Jiwasraya lewat penegakan hukum agar tetap berjalan mulai dengan melakukan pencekalan terhadap direksi Jiwasraya pada periode 2013-2018.

8. Sri Mulyani libatkan Kepolisian dan KPK

Pemerintah akan mengambil tindakan hukum untuk kasus gagal bayar polis asuransi Jiwasraya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, bakal melibatkan pihak Kepolisian, Kejaksaan bahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam proses penyelesaian masalah Jiwasraya.

"Kita juga menengarai kalau disitu ada hal-hal yang sifatnya kriminal maka kita akan minta aparat penegak hukum untuk melakukan penanganannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan," ungkapnya, Senin (15/12/2019) seperti dikutip dari Kompas.com, Selasa (17/12/2019).

9. Nasabah gugat Jiwasraya

Kasus ini juga mendorong enam nasabah menggugat PT Asuransi Jiwasraya (Persero) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan tuduhan ingkar janji menyelesaikan kewajiban kepada nasabah (wanprestasi).

Gugatan tersebut telah terdaftar di pengadilan sejak tanggal 27 Oktober 2019.

Dikutip dari Kontan, 10 Oktober 2019, Humas Pengadilan Negeri Jakpus Makmur membenarkan adanya gugatan tersebut sebagai yang terpapar dalam Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) di situs resmi PN Jakpus.

Dengan nomor perkara 589/Pdt.G/2019/PN Jkt.Pst, disebutkan nama penggugat tersebut adalah Meike Sudirga Pamaputera, Stephen Putra Kurniawan, Irwan Tjokrosaputra, Tjiam Toap Kieuw, Susanti dan Suryani Kurniawan.

Editor: Iksan Fauzi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved