Berita Gresik

Tak Hanya di Lamongan, Air Sungai Bengawan Solo di Gresik Juga Menghitam Karena Limbah Batik

Air Sungai Bengawan Solo di Desa Dukunanyar, Kecamatan Dukun, Gresik, berwarna hitam, diduga tercemar limbah batik dari Jawa Tengah.

SURYA.co.id/Willy Abraham
Kepala AKD, Nurul Yatim mengambil contoh air Sungai Bengawan Solo berwarna hitam yang diduga tercemar limbah batik, Kamis (12/12/2019). 

SURYA.co.id | GRESIK - Air Sungai Bengawan Solo di Desa Dukunanyar, Kecamatan Dukun, Gresik, berwarna hitam, diduga tercemar limbah batik dari Jawa Tengah.

Warga pun akhirnya enggan menggunakan air sungai tersebut. Apalagi di Desa Dukunanyar, warga menggunakan air Bengawan Solo untuk kebutuhan sehari-hari seperti, memasak dan mencuci baju.

Padahal, sebelumnya sungai tersebut mengalami kekeringan. Kini, mulai dialiri air kembali namun kondisinya menghitam tercemar limbah.

"Sudah dua hari ini air Bengawan menjadi hitam," ujar Ketua Asosiasi Kepala Desa (AKD) Gresik, Nurul Yatim, Kamis (12/12/2019) kemarin.

Yatim yang juga Kepala Desa Baron ini mengambil botol air mineral dan mengambil contoh air. Ternyata air tersebut bau dan berwarna hitam.

Pencemaran air Bengawan Solo ini juga melintasi beberapa sungai di Gresik.

Menurutnya, hal ini disebabkan oleh limbah batik di Jawa Tengah.

"Kami meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik dan Balai Besar Sungai Bengawan Solo (BBWS) untuk cepat turun menangani," ucapnya.

Sebab, lanjut Yatim, jika terus dibiarkan sangat membahayakan bagi warga dan juga ekosistem di sungai.

Apalagi di sungai tersebut digunakan warga untuk mencari ikan.

Seperti Nur Rohman, pencari ikan sungai ini hanya bisa terdiam di atas perahu miliknya yang tersandar di pinggir sungai.

Air Bengawan Solo di Lamongan Jadi Berwarna Hitam, Diduga Tercemar Limbah Batik dari Jawa Tengah

Air Bengawan Solo Tercemar Limbah Batik, Warga Diimbau Jangan Langsung Konsumsi Air PDAM Lamongan

Sungai Bengawan Solo yang tercemar limbah ini membuat Nur Rohman tidak bisa berbuat apa-apa.

Padahal sehari-hari dia memanfaatkan sungai untuk mencari ikan. Ia mengaku pendapatannya pun merosot karena tangkapan ikannya menurun.

"Biasanya sehari bisa lima kilo ikan, sekarang cuma dapat beberapa ekor saja. Kadang juga tidak dapat apa-apa," tutupnya.

Penulis: Willy Abraham
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved