Berita Surabaya

Ubaya Kukuhkan 2 Guru Besar FEB Baru, Rektor: Dukung Dosen Raih Level Profesionalitas Tertinggi

Universitas Surabaya (Ubaya) mengukuhkan dua guru besar dari Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE), yakni Prof Suyanto dan Prof Drs Sujoko Efferin

sulvi sofiana/surya
dari kiri - Prof Drs Sujoko Efferin, Rektor Ubaya Benny Lianto, dan Prof Suyanto, seusai pengukuhan guru besar, Selasa (10/12/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Universitas Surabaya (Ubaya) mengukuhkan dua guru besar dari Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE), yakni Prof Suyanto dan Prof Drs Sujoko Efferin, Selasa (10/12/2019). Dengan dikukuhkan kedua guru besar di bidang ekonomi tersebut berarti Ubaya telah memiliki 10 profesor.

Rektor Ubaya, Benny Lianto, mengatakan akan terus memperkokoh komitmen mutu dan eksistensi Ubaya, sesuai dengan tema strategis baru Ubaya yaitu 'A New Leap Into the Future'. Ubaya, lanjutnya, memberi dukungan penuh dengan mendorong dan mempercepat serta memfasilitasi para dosen dalam mencapai level profesionalitas tertingginya.

"Dengan dikukuhkan dua profesor baru, kontribusi Ubaya dalam pembangunan bangsa dan negara akan semakin meningkat," kata Benny.

Prof Suyanto, sebagai Guru Besar termuda dalam bidang Ilmu Ekonomi Pembangunan sekaligus Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Ubaya menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul 'Potensi Penelitian Produktivitas Perusahaan Yang Bersumber Dari Penanaman Modal Asing: Sebuah Area Yang Mulai Diminati'.

Menurut Suyanto, kehadiran perusahaan asing memiliki dampak positif dalam meningkatkan produktivitas perusahaan lokal.

"Keberadaan perusahaan asing dapat menjadi negatif dengan ‘mencuri’ pasar perusahaan lokal dan mendorongnya keluar dari pasar," jelasnya.

Hal tersebut dapat terjadi ketika skala produksi perusahaan lokal kecil memiliki biaya produksi marginal (marginal costs) yang tinggi, maka keberadaan perusahaan asing akan merugikan perusahaan lokal.

"Sebaliknya, perusahaan lokal yang memiliki skala produksi efisien serta marginal costs yang rendah akan mampu bersaing sehingga memperoleh manfaat berupa transfer pengetahuan dari perusahaan asing (MNCs)," ujarnya.

Tranfer pengetahuan ini dapat berupa pengetahuan managerial (efisiensi teknis), pengetahuan efisiensi biaya (skala efisiensi), dan pengetahuan peningkatan produksi (kemajuan teknologi).

"Dikarenakan dampaknya bisa negatif dan positif, kebijakan terkait PMA perlu dipastikan bahwa manfaat yang diperoleh melebihi biaya yang terjadi. Kebijakan yang diambil juga perlu selektif dengan memastikan jenis PMA yang masuk ke Indonesia adalah PMA yang memberikan transfer pengetahuan, bukan ‘mencuri’ pasar perusahaan lokal," katanya.

Halaman
12
Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved