Berita Surabaya

Begini Cara Asyik dan Mudah Belajar Bahasa Jawa. . .

Festival Film Pendek Berbahasa Jawa diikuti 12 sekolah di Jawa Timur. Film bahasa Jawa dipercaya mempermudah pembelajaran bahasa Jawa

Begini Cara Asyik dan Mudah Belajar Bahasa Jawa. . .
endah imawati/surya
Whani Darmawan, aktor, menunjukkan pentingnya mengolaborasikan bahasa Jawa dengan teknologi sehingga menghasilkan film berbahasa Jawa dalam Seminar Nasional Bharada II di Universitas Negeri Surabaya, Sabtu (7/12/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Film berbahasa Jawa menjadi pemikat dan inovasi dalam pembelajaran bahasa Jawa. Pembuatan film pendek menjadi salah satu cara untuk mengenalkan kearifan lokal melalui media yang banyak disuka.

Festival Film Pendek Berbahasa Jawa diikuti 12 sekolah di Jawa Timur. Ada lima film terbaik diundang dalam Seminar Nasional Bharada II tentang Inovasi dan Strategi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Jawa, sekaligus pemberian penghargaan dalam festival film pendek berbahasa daerah/Jawa, Sabtu (7/12/2019).

Seminar dan pemberian penghargaan dilakukan di lantai 4 Gedung T13 Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Seminar diadakan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah Unesa dengan menghadirkan Heriani dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Whani Darmawan yang menjadi juri dalam festival film, dan Setya Yuwana, guru besar Unesa.

Whani, aktor dari Yogyakarta itu menunjukkan, kemampuan kolaborasi dibutuhkan untuk menjawab tantangan teknologi saat sebagian orang gamang dengan keberadaan bahasa daerah, dalam hal ini bahasa Jawa.

Kemajuan teknologi mampu mereproduksi karya seni sehingga tersambung dengan relasi dan komunikan.

Itu bisa dilihat dalam animasi film melalui metode blue screen seperti film Life of Pi yang memungkinkan sutradara 'menyutradari' binatang karena di dalam film itu ada zebra, hyena, orang utan, dan harimau benggala.

Menurut Whani, kearifan lokal adalah budaya yang berfungsi membangun kebiasaan kebijaksanaan hidup lengkap dengan standar komunikasi, etika, moral, logika, filsafat, kosmologi, dan lainnya.

"Jangan lupa, ketika kita sadar bahasa daerah di era global menjadi seksi sebagai komoditas, maka itu dapat digunakan sebagai kreativitas. Itu seperti euforia komunitas ambyar dengan Didi Kempot atau Via Vallen," tambahnya.

Dibutuhkan kecerdikan mengolaborasikan kearifan lokal dengan konteks berbasis teknologi.

Bahasa daerah, dalam hal ini bahasa Jawa, masih potensial disebarkan dan dihidupkan melalui berbagai media, termasuk film.

Halaman
12
Penulis: Endah Imawati
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved