Kenaikan Cukai Rokok Diprediksi Memicu Penurunan Produksi Rokok Hingga 15 Persen

Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero) memperkirakan, penurunan produksi rokok bisa mencapai angka 15 persen karena terdampak kenaikan tarif cukai rokok

Kenaikan Cukai Rokok Diprediksi Memicu Penurunan Produksi Rokok Hingga 15 Persen
surabaya.tribunnews.com/sri handi lestari
Rembug Nasional tentang Pertembakauan yang dihadiri Wagub Jatim, Emil Dardak Elastianto (kiri) dan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo (ketiga dari kiri) di Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA -  Kenaikan tarif cukai rokok mulai 2020 diprediksi akan menurunkan jumlah produksi rokok.

Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero) memperkirakan, penurunan produksi rokok bisa mencapai angka 15 persen.

Ketua Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero) Surabaya, Sulami Bahar menuturkan, penurunan produksi ini juga akan berdampak pada penurunan penyerapan bahan baku, baik tembakau maupun cengkeh yang diperkirakan bisa turun hingga 30 persen.

"Oleh karena itu, kebijakan pemerintah ini membuat para pelaku di industri ini resah. Apalagi beberapa tahun terakhir, industri sedang mengalami penurunan," kata Sulami di sela kegiatan Rembug Nasional bertajuk Membangun Kemandirian, Daya Saing dan Kelestarian Pertembakauan Berbasis Budaya Nasional. Acara ini digelar di Surabaya.

Selama kurun waktu tiga tahun terakhir, industri rokok mengalami penurunan 1-2 persen pertahunnya. Bahkan Sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret putih mesin (SPM) sempat mengalami penurunan market share.

Rinciannya pada SKM turun sebesar 8,4 persen dan SPM 8,3 persen. Bahkan besaran penurunan market share sebanyak 13,1 persen dialami oleh sigaret kretek tangan (SKT).

Sulami mengaku pihaknya telah menerima keputusan pemerintah. Tapi mereka juga meminta pemerintah memberikan kebijakan lain agar industri rokok tetap bertahan. Seperti fasilitas kredit.

"Sebelumnya fasilitas tersebut pernah ada, tapi tentunya harus ada penambahan yang sesuai dengan kenaikan saat ini. Misal SKT rata-rata naik 14 persen dan SKM naik kurang lebih 26 persen, maka penambahannya angkanya sama," ungkap Sulami.

Pihaknya juga meminta pemerintah untuk terus memerangi rokok ilegal. Apalagi maraknya rokok-rokok ilegal sangat berdampak pada industri. Pihaknya mencatatkan adanya penurunan sekitar 7-8 persen pada SKT.

"Dampak rokok ilegal ini luar biasa," ujarnya.

Halaman
123
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved