Berita Jawa Timur

ASN Dinas ESDM Jatim Divonis Penjara Karena Terbukti Lakukan Pungli Perizinan Tambang di Lumajang

Seorang ASN Dinas ESDM Provinsi Jatim divonis 1 tahun 4 bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Surabaya karena terbukti terlibat pungli

tribun jatim/kukuh kurniawan
Terdakwa Ali Hendro Santoso saat keluar dari ruang sidang Pengadilan Tipikor Surabaya usai mendengarkan vonis dari majelis hakim 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Kukuh Kurniawan

SURYA.co.id | SIDOARJO - Seorang ASN di Dinas ESDM Provinsi Jatim divonis 1 tahun 4 bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Surabaya. 

ASN bernama Ali Hendro Santoso itu divonis setelah dinyatakan bersalah terlibat pungutan liar Rp50 juta dalam perizinan tambang di kabupaten Lumajang. 

Vonis tersebut dibacakan oleh ketua majelis hakim, I Wayan Sosiawan di ruang sidang Pengadilan Tipikor Surabaya, Jumat (6/12/2019).

Dalam sidang, terdakwa yang menjabat sebagai bendahara pengeluaran yang membidangi bidang Evaluasi dan Pelaporan Bidang Pertanbangan di Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jatim terbukti melakukan pungli bersama dengan Kasi Evaluasi dan Pelaporan Pertambangan di Dinas ESDM Pemprov Jatim, Kholiq Wicaksono.

"Perbuatan terdakwa jelas melanggar pasal 11 Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, sebagaimana diubah dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2001 juncto pasal 55 ayat 1 KUHP. Sehingga majelis hakim memutuskan menjatuhkan pidana penjara 1,4 tahun dengan denda Rp. 50 juta subsider 1 bulan penjara," ujar I Wayan Sosiawan dalam persidangan.

Mendengar hal itu, terdakwa langsung berunding dengan pihak kuasa hukum dan menyatakan masih masih pikir-pikir atas putusan hakim.

Hal senada juga dilakukan oleh pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Surabaya yang juga pikir pikir terhadap putusan itu.

JPU Kejari Surabaya, Ferry Rahman mengatakan pihaknya pikir-pikir karena vonis yang dijatuhkan hakim lebih rendah dari tuntutan jaksa.

"Memang seluruh tuntutan yang ada di surat tuntutan diambil seluruhnya untuk dijadikan pertimbangan hakim. Namun ternyata vonis yang dijatuhkan lebih ringan dari tuntutan kita sehingga kita putuskan masih pikir pikir," terangnya.

Halaman
12
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved